El Nino Gozilla Datang, Krisis Pangan Mengancam
Penulis : Raden Ariyo Wicaksono
Iklim
Senin, 13 April 2026
Editor : Yosep Suprayogi
BETAHITA.ID - Fenomena El Nino “Gozilla” atau Super El Nino yang melanda wilayah Indonesia, dikhawatirkan akan menyebabkan kekeringan yang tinggi dan panjang. Hal tersebut berpotensi akan mengakibatkan krisis pangan.
Dalam keterangan tertulisnya, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyebut hingga Maret 2026, sekitar 7% dari Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki fase kemarau. Sebagian besar wilayah di Indonesia diprediksi akan mulai memasuki musim kemarau pada bulan April, Mei dan Juni 2026.
Menurut analisa Walhi, terdapat beberapa wilayah yang mengalami kekeringan sedang, berat dan bahkan ekstrem. Wilayah yang paling rentan terhadap kekeringan saat El Nino berada di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur serta Kalimantan.
Ketika terjadi El Nino kondisi kekeringan semakin ekstrem yang berdampak pada krisis air bersih, gagal panen dan mengalami krisis pangan,” kata Musdalifah, Pengkampanye Pangan dan Ekosistem Esensial Walhi, Jumat (10/4/2026).
Di sisi lain, imbuh Musdalifah, sistem pangan di Indonesia masih sangat bergantung pada impor pangan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) periode Januari-Maret 2025, menyebutkan bahwa Indonesia mengimpor hingga 13.629 ton komoditas pangan.
“Paradigma pembangunan hari ini yang ekstraktif dan eksploitatif telah menyebabkan alih fungsi lahan pertanian produktif ke lahan perkebunan monokultur, pembangunan infrastruktur dan mega proyek investasi lainnya, termasuk di sekitar wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia, yang notabenenya merupakan wilayah kelola rakyat dan sumber pangan utama untuk menopang ketercukupan pangan” ujarnya.
Musdalifah melanjutkan, kekeringan dan fenomena El Nino memberikan dampak serius terhadap produksi pangan di Indonesia, terutama karena penurunan curah hujan dan peningkatan risiko kekeringan. Secara historis, El Nino pada 1997/1998 menyebabkan penurunan produksi padi sebesar 3,6 persen dibandingkan 1997 dan hingga 6 persen dibandingkan 1996. Krisis saat itu tidak hanya menekan produksi, tetapi juga memicu lonjakan harga pangan yang memperburuk krisis ekonomi nasional.
Sementara, El Nino 2024 menyebabkan penurunan produksi beras sebesar 2,28 juta ton pada periode Januari hingga April, atau turun 17,52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, Badan Pangan Nasional, menyampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama komisi IV DPR RI, bahwa Indonesia dalam menghadapi fenomena El Nino telah menyediakan cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 4,6 juta ton per hari.
“Dalam konteks pemenuhan ha katas pangan yang dijamin dalam peraturan perundang-undangan, tidak hanya bicara soal ketersediaan, tetai juga perlu memastikan sejauh mana masyarakat khususnya kelas ekonomi ke bawah bahkan miskin dapat menjangkaunya, serta memastikan kelayakan pangan untuk dikonsumsi,” kata Musdalifah.
Ia menambahkan, Komite Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya PBB menyatakan bahwa hak atas pangan yang layak terwujud jika setiap laki-laki, perempuan dan anak-anak, baik sendiri atau dalam bersama dengan orang lain dalam masyarakat, memiliki akses fisik dan ekonomi sepanjang waktu terhadap pangan yang layak atau cara untuk pengadaannya. Oleh karena itu, negara berkewajiban untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk mencegah dan mengurangi kelaparan sebagaimana diatur dalam pasal 11 ayat (2) Kovenan Hak Ekonomi, Sosial, Budaya, bahkan saat terjadi bencana alam ataupun bencana lainnya.


Share

