Birute Galdikas, Ibu para Orangutan, telah Pulang
Penulis : Raden Ariyo Wicaksono dan Kennial Laia
Sosok
Jumat, 27 Maret 2026
Editor : Yosep Suprayogi
BETAHITA.ID - Tanjung Puting tak akan sama lagi. Tak akan ada lagi wanita tua berambut pirang bersuara lembut namun berhati keras yang tekun memandangi orangutan yang bergelantungan di kanopi hutan sana. Tak akan ada pula bayi orangutan yatim piatu yang bisa merasakan hangat pelukannya. Bukan karena wanita itu tidak ingin, tapi waktunya di dunia ini telah habis.
Dia adalah Birutė Mary Galdikas, Presiden Orangutan Foundation International (OFI). Primatolog, antropolog, dan etnolog legendaris ini menghabiskan sekitar 55 tahun masa hidupnya untuk melakukan penelitian dan konservasi orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus), terutama di Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.
Birutė Galdikas pulang di usia 79 tahun, setelah berjuang melawan sakit jantung dan kanker yang menggerogoti paru-parunya, di sebuah rumah sakit di Los Angles, California, Amerika Serikat, pada Selasa (24/3/2026). Kepergiannya meninggalkan warisan pengetahuan dan semangat konservasi orangutan yang berharga.
Manajemen OFI menyebut kepergian Birutė Galdikas menandai berakhirnya era ikon konservasi legendaris. Birutė Galdikas adalah yang terakhir yang meninggal dunia dari "Trimates" atau "Leakey's Angels," sebuah kelompok peneliti wanita perintis yang juga termasuk Dr. Jane Goodall dan Dr. Dian Fossey, yang masing-masing mempelajari simpanse dan gorila.
“Ketiga wanita ini, yang awalnya dibimbing dan didukung oleh ahli paleoantropologi terkenal Dr. Louis Leakey, merevolusi pemahaman umat manusia tentang kerabat terdekat kita yang masih hidup di kerajaan hewan dan, pada gilirannya, tentang diri kita sendiri,” kata OFI, dalam pernyataan resminya, Selasa (24/3/2026).
Kesetiaannya pada dunia konservasi membuat Morgan Freeman, aktor kawakan Hollywood, memuji Birutė Galdikas sebagai konservasionis yang berdedikasi tinggi dan inspiratif dalam mendokumentasikan upaya penyelamatan orangutan di Borneo lewat film dokumenter berjudul Born to Be Wild 3D. Freeman, sebagai narator, menyoroti pekerjaan seumur hidup Birutė Galdikas yang merawat orangutan yatim piatu agar dapat kembali ke habitat aslinya.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam sebuah keterangan menyebut Birutė Galdikas sebagai tokoh penting dan berjasa dalam dunia konservasi orangutan di dunia. Menteri Raja Juli, atas nama Kementerian Kehutanan, mengucapkan belasungkawa atas kepergian Birutė Galdikas.
“Bila hari ini anda melihat Taman Nasional Tanjung Puting yang indah, terjaga dengan orangutan yang membuat anda berdecak kagum, tanpa terlihat, anda akan temukan jejak kaki dan tangan seorang perempuan berhati keras, berkomitmen tinggi, selain rumah tua dari kayu yang beliau dirikan diawal tahun 70-an,” kata Raja Juli, dikutip dari akun Instagramnya.
Birutė Galdikas di mata keluarga OFI
Bagi para konservasionis primata, sosok Birutė Galdikas bukan hanya sekadar ilmuwan tapi juga guru. Bahkan perempuan kelahiran Jerman, keturunan Lithuania, berkewarganegaraan Indonesia itu dianggap sebagai pionir pegiat konservasi orangutan di Indonesia. Tak mengherankan kepergiannya meninggalkan duka yang mendalam bagi para konservasionis primata, terutama bagi keluarga besar OFI.
Direktur Program GIS OFI, Robert Ferdinand Yappi, mengatakan tidak ada staf OFI yang tidak merasa kehilangan sosok Birutė Galdikas. Karena semasa hidupnya, Birutė Galdikas tidak pernah membeda-bedakan jabatan atau memandang latar belakang para staf yang bekerja di OFI.
Sebagian besar staf OFI, yang totalnya mencapai sekitar 260 orang dan didominasi warga lokal, direkrut bukan karena kompetensinya namun berdasarkan pengabdian. Ada 3 orang penyandang tuna netra yang diangkat menjadj staf oleh Birutė Galdikas karena pengabdiannya.
“Jadi Ibu Birutė ini tidak melihat historical orangnya, tapi pengabdiannya. Tapi ada satu hal yang jadi kewajiban bagi para staf, yaitu harus mengenal orangutan yang ada di Orangutan Care Center and Quarantine. Saat ini orangutan yang ada di Care Center itu kira-kira sekitar 230-an,” kata Robert, Rabu (25/3/2026).
Menurut Robert, Birutė Galdikas termasuk konservasionis garis keras. Baginya tidak ada tawar menawar menyangkut penyelamatan dan perlindungan orangutan, begitu pula terhadap habitatnya. Robert menggambarkan, ibarat sedang berperang, Birutė Galdikas adalah sosok prajurit yang akan selalu ingin berdiri paling depan, tidak ada ketakutan dalam dirinya.
“Tidak ada takut-takutnya dia menjinakkan para penambang liar dulu itu. Tapi dia tidak menghadapinya dengan kekerasan, tidak secara emosional. Dia punya cara sendiri, ia melakukannya dengan diajak bercerita,” ujarnya.
Biruté memangku Sugito, bayi orangutan yatim piatu yang diselamatkan, sambil duduk di rawa mengumpukan data tentang orangutan liar di area penelitian Camp Leakey, pada 1971 silam. Foto: OFI.
Robert adalah salah satu orang yang cukup lama mengenal Birutė Galdikas. Ia sudah mendampingi Birutė Galdikas melakukan penelitian orangutan di Tanjung Puting sejak 1994, sejak Robert masih duduk di bangku kuliah di Fakultas Biologi di Universitas Nasional—di mana saat itu Birutė Galdikas menjadi dosen luar biasa di universitas tersebut. Setelah menyelesaikan perkuliahannya, pada sekitar 1998, Robert kemudian resmi bergabung bersama Birutė Galdikas untuk mengabdi di OFI, hingga sekarang.
“Kalau mau lihat bagaimana jiwa dan karakter sebenarnya Ibu Birutė, itu ada di era 1990-an dan 2000-an. Dulu dia sangat keras. Tapi seiring bertambahnya umur, dia agak lebih lembut, dan kira-kira setelah 2020-an lebih lembut lagi. Beberapa tahun terakhir ini dia lebih sering menjadi pendengar yang baik dan menampung ide atau saran dari para staf,” ujar Robert.
Birutė Galdikas, dalam ingatan Robert, adalah sosok yang tegas. Birutė Galdikas tak ragu menunjukkan kemarahannya kepada siapapun yang melakukan kekerasan atau berinteraksi negatif dengan orangutan liar. Para staf OFI, termasuk dirinya, bahkan tak jarang kena amarah Birutė Galdikas, hanya karena menimbulkan suara keras di dalam hutan. Bagi Birutė Galdikas, sambung Robert, bersuara keras adalah bentuk tindakan yang tidak sopan dan tidak hormat kepada hutan dan penghuninya.
Selain tegas, imbuh Robert, Birutė Galdikas adalah sosok perempuan yang berkemauan tinggi dan penuh semangat, terutama bila menyangkut perlindungan orangutan dan habitatnya. Birutė Galdikas tak segan-segan membeli hektare-hektare lahan, hanya untuk dipertahankan tutupan hutannya sebagai habitat orangutan.
“Ibu Birutė itu memang gemar membeli hutan. Kalau ada orang jual tanah, tapi masih ada hutannya, pasti dia beli. Misinya adalah agar tetap ada hutan. Tanah itu boleh dimanfaatkan, tapi tidak boleh mengubah atau membabat hutannya. Salah satunya ya Rawa Kuno (Orangutan Legacy Forest) itu yang luasnya sekitar 6.400 hektare,” tutur Robert.
Birute Galdikas saat berfoto bersama para staf OFI dan relawan pemadam kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting, pada 2015 silam. Foto: Fajar Dewanto.
Robert mengungkapkan, selain sebagai pendiri dan tulang punggung OFI, Guru Besar di Simon Fraser University itu juga merupakan sosok di balik berdirinya sejumlah lembaga masyarakat sipil, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, seperti OFI Kanada, OFI Australia, Yayasan Orangutan Indonesia, dan Orangutan Foundation United Kingdom (OFUK). Birutė Galdikas juga adalah orang di balik berubahnya status Tanjung Puting, dari suaka margasatwa menjadi taman nasional. Birutė Galdikas pulalah yang mendorong peningkatan status Cagar Alam Sungai Lamandau, menjadi Suaka Margasatwa.
“Yang belum selesai itu adalah meningkatkan status Rawa Kuno, dari hutan produksi menjadi taman hutan raya (Tahura). Rawa Kuno itu luasnya sekitar 5 ribu hektare, tapi yang kita usulkan untuk jadi Tahura 4 ribu hektare. Sempat ditetapkan sebagai Tahura, tapi SK-nya dicabut lagi. Karena ada permasalahan administratif,” ucap Robert.
Menurut Robert, kecintaan Birutė Galdikas pada orangutan sangatlah luar biasa. Orangutan di mata Birutė Galdikas bukanlah satwa seperti pada umumnya, namun seperti sesama makhluk hidup seperti dirinya. Karena kecintaannya tersebut, Birutė Galdikas sempat berkali-kali meminta untuk kembali ke rumahnya di Kalimantan, hanya untuk melihat orangutan. Namun berkali-kali pula dilarang oleh dokter yang merawatnya semasa menjalani pengobatan di Los Angeles.
“Terakhir Ibu Birutė Galdikas di Kalimantan itu sekitar akhir 2024. Ya kira-kira saat itulah dia terakhir melihat orangutan. Sepanjang 2025 dia di Los Angeles sana. Dokter melarang dia terbang (menggunakan pesawat) terlalu lama karena paru-parunya tidak kuat. Dia mengidap kanker paru-paru,” kata Robert.
Trimates, yang terkadang disebut Leakey's Angels, adalah nama yang diberikan kepada tiga wanita legendaris dalam dunia penelitian primata, yakni Dian Fossey, Jane Goodall, dan Biruté Galdikas (dari kiri ke kanan). Foto: OFI.
Abdul Maat, staf OFI yang menangani transportasi air (speed boat) mengenang Birutė Galdikas sebagai sosok yang disegani kru dan tamu yang datang ke Tanjung Puting. Meskipun begitu, Maat mengenalnya sebagai pribadi yang berpembawaan halus dan mau mendengar.
Maat, nama panggilannya, adalah sosok yang selalu mengantarkan Birutė Galdikas ketika dia turun ke hutan.
"Ke mana ibu mau pergi, saya selalu standby. Pernah mesin mati saat di tengah jalan, tapi ibu tidak marah. Dia hanya bertanya, lalu mendengarkan penjelasan saya. Dia tidak masalah. Hanya setengah sampai satu jam, sudah bisa jalan lagi," katanya.
Menurut Maat, Birutė Galdikas tidak ragu dalam merangkul dan melibatkan masyarakat setempat dalam kerja-kerja konservasi di kawasan Tanjung Puting.
"Dia enggak milih tua ataupun muda, yang punya pendidikan atau tidak, bisa seperti saya. Yang penting ada pengalaman," katanya.
Fajar Dewanto, yang pernah mengabdi di OFI sejak 2001 hingga 2024, juga punya kesan tersendiri terhadap sosok Birutė Galdikas. Fajar ingat betul kebiasaan Birutė Galdikas yang selalu bersedia bersikap rendah di hadapan para staf, dengan meminta maaf setelah menguras emosinya saat mengikuti berbagai rapat dengan para staf OFI.
“Dia sering mengatakan ‘jangan membodoh’ kepada kita kalau kita ada kesalahan. Dan itu bukan karena dia marah. Tapi karena bahasa dia kaku. Padahal yang dia maksud adalah ‘jangan begitu’. Kalaupun dia marah ke kita, di akhir nanti dia pasti bilang maaf dan terima kasih. Itu selalu dia lakukan,” kata Fajar.
Fajar mengatakan, meski cenderung keras kepala, Birutė Galdikas termasuk orang yang sabar. Dalam melakukan pekerjaannya misalnya, Birutė Galdikas selalu bisa menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan kebijakan pemerintah, baik terkait kemitraan OFI dengan pemerintah dalam pengelolaan taman nasional, maupun terkait perlindungan orangutan maupun habitatnya.
“Satu impian Ibu Birutė Galdikas yang belum tercapai. Yaitu membangun koridor hutan untuk satwa. Khususnya dari Taman Nasional Tanjung Puting sampai ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Memang terdengar mustahil, tapi dia tetap berkeras ingin ada koridor satwa itu,” katanya.
Guru sekaligus mentor
Birutė Galdikas juga merupakan sosok yang istimewa di benak para koleganya sesama konservasionis orangutan. CEO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Jamartin Sihite, misalnya, menyebut sosok Birutė Galdikas baginya adalah guru dan mentor.
Jamartin bilang pertemuan pertamanya dengan Birutė Galdikas dalam Orangutan Conservation Services Program (OCSP)-USAID bukan sekadar awal kerja sama, melainkan awal dari perjalanan panggilan. Dari Birutė Galdikas, Jamartin mengaku belajar bahwa konservasi bukan hanya tentang metode dan data, tetapi tentang kesetiaan, yakni bertahan ketika dunia tak melihat dan berjuang ketika hasil belum tampak.
“Kita berduka atas berpulangnya Biruté Galdikas, seorang perempuan yang memilih meninggalkan kenyamanan dunia demi setia tinggal bersama hutan dan para penghuninya. Di antara akar, lumpur, dan kanopi yang tak selalu ramah, beliau menemukan panggilan hidupnya: menjaga orangutan, dan melalui itu, menjaga kemanusiaan kita sendiri,” kata Jamartin, Rabu (25/3/2026).
Bagi banyak orang Indonesia, lanjut Jamartin, Birutė Galdikas bukan hanya ilmuwan. Ia adalah cahaya yang menyalakan kesadaran bahwa hutan bukan sekadar ruang, melainkan rumah. Bahwa orangutan bukan sekadar satwa, melainkan saudara dalam ciptaan. Menurut Jamartin, ketekunan dan keberanian Birutė Galdikas telah menumbuhkan generasi baru penjaga hutan, yang kini berdiri melanjutkan jejaknya.
“Kini, ketika beliau telah berpulang, hutan-hutan itu tetap berdiri. Suara orangutan masih bergema di pagi hari. Dan dalam setiap gema itu, ada jejak kasih dan keberanian yang beliau tinggalkan. Selamat jalan, Ibu Biruté. Warisanmu bukan hanya kenangan, tetapi api yang akan kami jaga, dan terus kami nyalakan,” imbuhnya.
Jamartin menganggap impian Birutė Galdikas tentang koridor hutan untuk satwa di Kalimantan itu bukanlah hal yang mustahil. Ia mengatakan, koridor satwa itu bisa diwujudkan asalkan ada kemauan politik. Konsep preservasi dalam Undang-Undang Konservasi baru membantu mewujudkan impian Birutė Galdikas itu.
“BOSF melihat bahwa ke depan pola konservasi di tapak haruslah dengan pendekatan konservasi lanskap. Semua penggiat konservasi harusnya saling menguatkan dan bergandengan tangan mewujudkan areal aman buat orangutan dan itu secara langsung maupun tidak, berperan mewujudkan mimpi (Birutė Galdikas) itu,” katanya.
Birute Galdikas saat ikut melakukan survei lapangan di Sungai Buluh Besar, Taman Nasional Tanjung Puting. Foto: Fajar Dewanto.
Pegiat konservasi primata lainnya, Karmele Llano Sanchez, CEO Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), menganggap Birutė Galdikas adalah salah satu contoh perempuan yang membuka jalan bagi orang seperti dirinya untuk bekerja melestarikan orangutan di Indonesia.
Menurutnya apa yang dilakukan Birutė Galdikas untuk orangutan, adalah hal yang luar biasa. Karmele bisa membayangkan tantangan yang luar biasa besar yang harus dihadapi Birutė Galdikas dalam melakukan perlindungan, pelestarian dan penyelamatan orangutan, dalam pengabdiannya yang lebih dari 50 tahun lamanya.
“Saya dengar Ibu Birutė Galdikas meninggal tadi pagi (25/3/2026) pas saya bangun. Kami sudah tahu beliau sedang mengalami penyakit, dan mungkin juga Dr. Birutė Galdikas sudah cukup menderita. Mungkin ini bisa menjadi salah satu cara dia bisa berdamai, dan semua sakit bisa hilang,” kata Karmele.
“Ibu Birutė Galdikas sudah berumur sekitar 80 tahun dan kami selalu kagum melihat Ibu Birutė Galdikas masih punya tenaga dan kekuatan moral dan mental untuk memperjuangkan orangutan. Itu salah satu hal yang menjadi contoh yang luar biasa untuk kita semua,” imbuhnya.
Inspirasi bagi peneliti
Di mata Jatna Supriatna, Guru Besar Biologi Konservasi di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, sosok Birutė Galdikas menggambarkan keberanian dan kegigihan yang luar biasa, yang mendedikasikan lima dekade hidupnya di hutan dan rawa tropis Taman Nasional Tanjung Puting.
“Dia adalah orang yang konsisten, persisten, dan berani dalam melakukan kerja-kerja konservasi di dalam hutan,” katanya, Kamis (26/3/2026).
Jatna adalah salah satu dari empat mahasiswa pertama Indonesia dari Universitas Nasional yang melakukan penelitian orangutan di bawah bimbingan Birutė Galdikas di Tanjung Puting circa 1975-an. Bersama rekan-rekannya saat itu, dia digembleng untuk melakukan observasi spesies, menavigasi hutan di malam hari, berjalan berkilo-kilometer selama belasan jam, hingga menceburkan diri ke dalam rawa sedalam satu meter.
Semua itu dia lakukan bersama Birutė Galdikas yang ikut terjun ke lapangan. Di matanya sebagai peneliti muda, sosok perempuan tersebut terus memberikan motivasi agar murid-muridnya bisa terus menjadi lebih baik dan tidak mau kalah terlepas dari tantangan yang terjadi di lapangan.
Mantan murid Biruté (dari kanan searah jarum jam: Barita Oloan Manullang, Endang Sukara, Jatna Supriatna [wajah tersembunyi], dan Jito Sugarjito membawa orangutan jantan remaja bernama “Gundul” dari pesawat Angkatan Udara Indonesia. Pesawat tersebut membawa Biruté, Rod (mantan suamiBiruté), murid-murid Biruté, dan empat orangutan peliharaan dari Jakarta (Jawa) ke Pangkalan Bun (Kalimantan). Foto: OFI.
Puluhan lintah menempel di kaki, demam malaria, hingga serangan ribuan nyamuk di camp menjadi sedikit dari pelajaran dan pengalaman yang diterima Jatna selama meneliti di taman nasional tersebut. Namun ilmu yang diterimanya sebagai peneliti muda jauh lebih berharga, mulai dari observasi spesies, cara mencatat dan menginterpretasikan hasilnya secara saintifik, kemampuan berpikir kritis, hingga nilai-nilai konservasi yang diturunkan oleh Birutė Galdikas dan keberaniannya memperjuangkan spesies orang utan yang saat itu belum mendapat tempat di mata dunia.
“Bayangkan kalau tidak ada Bu Birutė, Tanjung Puting mungkin akan akan habis. Karena saat itu ada encroachment dan hutan pun dijadikan sawit. Di depan orang-orang yang bawa senjata dan golok pun, Ibu Birutė berani mendamprat bahwa ini adalah kawasan konservasi. Itu pelajaran pertama tentang keberaniannya,” kenang Jatna.
“Pada 1970-an itu semua orang sedang demam kayu. Tapi Birute datang dengan gagasan bahwa ada alternatif lain, seperti usaha non-kayu dan ekowisata. Jadi jasanya sangat besar bagi pengembangan konservasi orangutan dan konservasi lainnya. Banyak ilmuwan terkemuka terinspirasi dari beliau baik dari dalam dan luar negeri,” ujarnya.
Jatna mengatakan, selama hidupnya Birutė telah menggembleng lebih dari 100 mahasiswa dan peneliti Indonesia. Menurutnya, hal ini juga menunjukkan bahwa Birutė seorang Indonesianis, dan juga bangga dirinya menjadi seorang warga negara Indonesia.
“Barangkali tidak ada duanya di Indonesia, bahwa ada sosok yang mau mengabdi selama 50 tahun untuk konservasi,” ujarnya.
“Hingga saat ini saya merasa banyak hutang budi kepada beliau, karena saat itulah saya ditempa. Saya menjadi seperti sekarang karena pelajaran yang terima dahulu di bawah bimbingan Bu Birutė,” kata ahli zoologi dan lingkungan terkemuka Indonesia ini.
Mengabdi pada orangutan sejak 1971
Birutė Galdikas memulai studi longitudinalnya tentang orangutan kalimantan pada 1971 di Camp Leakey—sebuah kamp yang dinamainya untuk menghormati mentornya, di tempat yang sekarang menjadi Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah. Penelitian perilaku dan ekologisnya merupakan studi yang dipimpin secara individual terpanjang pada satu spesies dalam sejarah.
Berjalan kaki menembus rawa setinggi pinggang dari sebelum fajar hingga setelah gelap, Birutė Galdikas memelopori pengamatan fokus individu pada orangutan dan mempelajari lebih banyak tentang mereka dalam empat tahun pertamanya di Camp Leakey daripada yang pernah diketahui sebelumnya.
Penemuan awalnya, termasuk mendokumentasikan beragam buah dan tumbuhan yang dimakan oleh orangutan liar, mengamati interval kelahiran terpanjang mereka yang memecahkan rekor, dan menjelaskan perilaku sosial serta pola aktivitas harian, membentuk dasar pemahaman dunia tentang orangutan dan tempat unik mereka dalam pohon kehidupan.
Sebagai tambahan atas pencapaian monumental ini, Birutė Galdikas juga segera menjadi ahli de facto dan mitra tepercaya bagi Pemerintah Indonesia dengan mendirikan pusat rehabilitasi orangutan skala besar dan jangka panjang pertama di Indonesia. Komitmen penuhnya untuk merawat orangutan yatim piatu, yang seringkali mengalami trauma dan penganiayaan yang telah ditahan di penangkaran, memberi primata dilindungi tersebut kesempatan kedua untuk hidup di alam liar.
Kecintaannya yang tak pernah padam terhadap orangutan-orangutan tersebut memberinya akses yang belum pernah terjadi sebelumnya ke dalam pikiran orangutan. Saat ia merawat orangutan yatim piatu, seringkali secara bersamaan mengikuti dan mempelajari induk orangutan liar, ia mampu melintasi batas-batas yang belum pernah dilanggar sebelumnya antara kedua spesies kita. Hubungan intim ini memicu misi spiritual Birutė Galdikas untuk melindungi keberadaan asli orangutan di alam liar.
Dr. Biruté duduk di samping pondoknya bergandengan tangan dengan Siswoyo, seekor betina dewasa. Bayi Siswi terlihat sebagian berpegangan pada sisi kiri Siswoyo. Foto: OFI.
Semangat dan dedikasi Birutė Galdikas yang tak tergoyahkan selama lebih dari lima dekade di Indonesia telah menempatkannya sebagai pakar terkemuka dunia tentang orangutan dan memberinya platform untuk mengadvokasi dengan penuh semangat. Di samping banyak pencapaian lainnya, memimpin penetapan kembali Tanjung Puting sebagai Taman Nasional dan memimpin Konferensi Kera Besar Dunia pertama pada tahun 1991 membawa orangutan ke panggung global dan memperkuat orangutan sebagai ikon dan harta karun Indonesia. Upayanya tentu saja secara langsung melestarikan populasi orangutan liar terbesar yang tersisa hingga saat ini.
“Dr. Galdikas adalah Profesor penuh di Universitas Simon Fraser di Burnaby, Kanada, sejak tahun 1981, dan Profesor Luar Biasa di Universitas Nasional di Jakarta, Indonesia, sejak tahun 1970-an. Beliau membimbing ratusan mahasiswa dari Indonesia, Kanada, dan seluruh dunia saat mereka melakukan penelitian lapangan sendiri di Camp Leakey,” tulis OFI.
Di dua perguruan tinggi itu, Birutė Galdikas mengajar mata kuliah tentang asal usul manusia, perilaku primata, dan kera besar kepada ribuan mahasiswa selama beberapa dekade. Birutė Galdikas berkeliling dunia untuk berbagi pengalaman dan pengetahuannya, dan untuk menekankan kebutuhan mendesak untuk melindungi hutan hujan tropis, yang merupakan satu-satunya rumah bagi orangutan.
Upaya Birutė Galdikas di Indonesia telah berkembang hingga mencakup ratusan penduduk lokal, sebagian besar masyarakat adat, yang melanjutkan penelitian dan rehabilitasi orangutan Birutė Galdikas serta pekerjaan perlindungan hutan, semuanya bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia. Upayanya dilanjutkan melalui organisasinya, Orangutan Foundation International (OFI), dan Yayasan OFI Indonesia yang baru didirikan, dipimpin oleh putranya Frederick Bohap Galdikas, yang memiliki posisi unik untuk melanjutkan babak selanjutnya dari misi Birutė Galdikas.
Birute Galdikas muda saat bersama dua anak orangutan yang menempel pada tubuhnya. Sumber: Istimewa.
Sebagai anggota terakhir dari "Trimates" yang ikonik, kepergian Birutė Galdikas menandai berakhirnya sebuah era. Ketiga pahlawan wanita ini mendorong batas-batas dalam sains, mematahkan ekspektasi yang didominasi laki-laki, dan menginspirasi generasi perempuan dan laki-laki untuk menyelamatkan planet kita dan mencapai tujuan yang tampaknya mustahil. Seiring berakhirnya era ini, era baru pun dimulai.
“Era di mana kita semua harus mengikuti teladan yang diberikan oleh para wanita luar biasa ini, bekerja sama, dan melestarikan kera besar dan alam yang kita semua bergantung padanya untuk masa depan yang berkelanjutan,” kata OFI.
Semangat pantang menyerah Birutė Galdikas mendorongnya untuk terus bekerja dan mengadvokasi hingga akhir hayatnya. Siang dan malam, ia memikirkan orangutan yang kepadanya ia mendedikasikan hidupnya. Semangat dan dorongannya untuk mempelajari dan menyelamatkan orangutan telah menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia.
“Kita semua, sebagai bagian dari warisannya di OFI dan keluarga besarnya di Kalimantan Indonesia, telah berjanji untuk melanjutkan misinya untuk orangutan, hutan, dan dunia,” ujar OFI.
“Keinginan terakhir Dr. Galdikas adalah untuk kembali ke rumahnya di Kalimantan dan dimakamkan di samping almarhum suaminya yang berdarah dayak, Pak Bohap bin Jalan. Ia akan kembali ke hutan yang sangat dicintainya. Sebagai Ibu Orangutan dan pahlawan sejati kita, ia akan tetap berada di hati dan pikiran kita saat kita meneruskan visinya untuk kelangsungan hidup orangutan di masa depan,” tambah OFI.
Semasa hidup Birutė Galdikas telah menerima beragam penghargaan, di antaranya Guggenheim Fellowship Award pada 1983, PETA Humanitarian Award pada 1990, Kalpataru pada 1996, Tyler Prize for Environmental Achivement, Penghargaan Konservasi dari Chevron pada 2005, Medali Penjelajah, Orde Kanada, Satya Lencana Pembangunan pada 2008, Penghargaan Khusus Lifetime Achievement pada 2016, dan Planet Tourism Award pada 2019.
Selain menerima berbagai penghargaan, Birutė Galdikas juga menerbitkan beberapa buku, termasuk autobiografinya yang berjudul Reflections of Eden. Perjalanan hidup 50 tahun Birutė Galdikas di Tanjung Puting pernah dikemas OFI dalam sebuah artikel yang diterbitkan di situs orangutan.org pada 2021 lalu.


Share

