Spesies Baru Keong Darat Ini Hanya Ditemukan di Sumatera Selatan

Penulis : Raden Ariyo Wicaksono

Biodiversitas

Sabtu, 14 Maret 2026

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID - Kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia bertambah. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mendeskripsikan satu spesies baru keong darat. Spesies yang diberi nama Chamalycaeus dayangmerindu ini dideskripsikan oleh peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Ayu Savitri Nurinsiyah bersama tim kolaborator, yang telah dipublikasikan dalam jurnal Internasional ZooKeys.

Penemuan spesies baru ini dihasilkan lewat kajian panjang, dari 2021 hingga dipublikasikan pada 2026. Kegiatan pengambilan sampel dilakukan pada 2021 sebagai bagian dari Ekspedisi Karakterisasi dan Valuasi Kawasan Ekosistem Esensial: Karst di Sumatra, Indonesia. Selanjutnya, telaah taksonomi melalui pengamatan morfologi cangkang dan pembandingan dengan spesimen koleksi ilmiah dilakukan hingga 2025. 

Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Ayu Savitri Nurinsiyah, menjelaskan proses menemukan, mendeskripsi, dan mengungkap (mempublikasikan) spesies baru bukan perjalanan yang singkat. Suatu spesies dapat diakui sebagai spesies baru apabila telah melalui beragam tahapan ilmiah, mulai dari telaah morfologi, anatomi, atau genetika, komparasi dengan spesies yang telah diketahui sebelumnya, proses penelaahan oleh para ahli (peer review) dunia dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. 

“Perjalanan panjang pengungkapan keanekaragaman hayati sudah menjadi jejak langkah setiap taksonom. Mulai dari ekspedisi dan eksplorasi di lapangan, telaah literatur dan laboratorium, hingga proses penulisan dan pengakuan secara internasional. Meski panjang dan penuh tantangan, saya percaya setiap proses dalam perjalanan ini akan selalu bermakna dan bermanfaat,” ujar Ayu, dalam sebuah keterangan tertulis, pada 9 Maret 2026.  

Gambar spesies baru keong darat yang diberi nama Chamalycaeus dayangmerindu. Foto: ZooKeys.

Hingga saat ini, spesies Chamalycaeus dayangmerindu hanya ditemukan di kawasan karst Padang Bindu, Sumatera Selatan. Kondisi tersebut menjadikannya rentan terhadap perubahan lingkungan, termasuk alih fungsi lahan dan degradasi habitat. Menurut Ayu, dokumentasi dan publikasi spesies baru merupakan langkah awal yang penting dalam upaya konservasi. 

Pengungkapan spesies baru ini juga merupakan hasil kolaborasi dengan beberapa pihak, yaitu Universitas Negeri Surabaya dan Széchenyi István University, Hungaria. Salah satunya yakni Latifah Nurul Aulia, mahasiswa dari Universitas Negeri Surabaya, yang melakukan penelitian di BRIN sejak masa Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) hingga tugas akhir, hingga bergabung dengan BRIN. 

“Tidak mudah mencari generasi penerus dalam bidang taksonomi dan biosistematika, lebih lagi di taksa keong. Semoga akan lebih banyak lagi generasi muda yang curious dan peduli terhadap pengungkapan keanekaragaman hayati Indonesia”, lanjut Ayu. 

Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Zookeys pada 2026. Melalui temuan ini, tim peneliti BRIN berharap dapat terus mendorong eksplorasi dan kajian biodiversitas, khususnya kelompok moluska darat, sebagai bagian dari upaya pendataan dan pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia secara berkelanjutan.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah Terindeks Global Bereputasi Tinggi (Q1)ZooKeys 1272: 1–31 (2026), dengan judul Operculate land snails (Gastropoda, Caenogastropoda, Cyclophoroidea) from Padang Bindu Karst, South Sumatra, Indonesia with the description of a new species, Chamalycaeus dayangmerindu.