Era 'Kebangkrutan Air Global' Telah Tiba - Laporan PBB

Penulis : Kennial Laia

Krisis Iklim

Sabtu, 24 Januari 2026

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID -  Dunia telah memasuki era “kebangkrutan air global” yang merugikan miliaran orang, demikian pernyataan PBB dalam laporan terbarunya. Jakarta disebut dalam laporan ini.

Penggunaan air berlebihan dan polusi harus segera diatasi, kata penulis utama laporan tersebut. Hal ini krusial karena tidak ada yang tahu kapan keseluruhan sistem akan runtuh, yang berdampak pada perdamaian dan kohesi sosial.

Semua kehidupan bergantung pada air, namun laporan tersebut menemukan bahwa banyak masyarakat telah lama menggunakan air lebih cepat daripada yang dapat diisi ulang setiap tahunnya di sungai dan tanah, serta mengeksploitasi secara berlebihan atau menghancurkan simpanan air jangka panjang di akuifer dan lahan basah.

Hal ini telah menyebabkan kebangkrutan air, kata laporan itu. Banyak sistem air manusia yang sudah melewati titik di mana air dapat dikembalikan ke tingkat semula. Krisis iklim memperburuk masalah dengan mencairnya gletser, yang menyimpan air, dan menyebabkan perubahan antara cuaca yang sangat kering dan basah.

Ilustrasi: Penyaluran air bersih. Foto: Istimewa

Pemimpin laporan dari Institut Air, Lingkungan, dan Kesehatan Universitas PBB Kaveh Madani mengatakan, meskipun tidak semua daerah aliran sungai dan negara mengalami kebangkrutan air, namun dunia saling terhubung melalui perdagangan dan migrasi, dan cukup banyak sistem kritis yang telah melewati ambang batas ini untuk mengubah risiko air global secara mendasar.

Hasilnya, kini terdapat 75% penduduk dunia tinggal di negara yang tergolong tidak aman air atau sangat tidak aman air, dan 2 miliar orang tinggal di tanah yang tenggelam karena akuifer air tanah telah runtuh.

“Laporan ini menunjukkan kenyataan yang pahit: banyak sistem air kritis yang sudah bangkrut. Ini sangat mendesak karena tidak ada yang tahu persis kapan seluruh sistem akan runtuh,” ujarnya. 

Sekitar 70% dari air bersih yang diambil oleh manusia digunakan untuk pertanian. Namun, yang terjadi adalah jutaan petani mencoba menanam lebih banyak bahan pangan dari sumber air yang menyusut, tercemar, atau hilang, menurut Madani. 

Lebih dari separuh pangan dunia ditanam di wilayah yang persediaan airnya menurun atau tidak stabil, kata laporan itu. “Kebangkrutan air di India atau Pakistan, misalnya, juga berdampak pada ekspor beras ke banyak tempat di seluruh dunia," kata Madani.  

Di beberapa daerah aliran sungai yang paling padat penduduknya di dunia, termasuk Indus, Kuning, dan Tigris-Efrat, sungai-sungai tersebut secara berkala mengering sebelum mencapai laut. 

Danau-danau juga menyusut, mulai dari Danau Urmia di Iran, hingga Laut Salton di AS, dan Danau Chad. Satwa liar dan manusia juga menderita karena manusia “mencuri” air dari alam, kata Madani.

Eksploitasi air tanah yang berlebihan menyebabkan penurunan permukaan tanah di kota-kota di seluruh dunia, dengan penurunan permukaan air tanah di Rafsanjan, Iran, sebesar 30 cm per tahun; Tulare, di AS, bertambah sekitar 28 cm per tahun, dan di Kota Meksiko sekitar 21 cm per tahun. 

Adapun Jakarta, Manila, Lagos, dan Kabul adalah kota-kota besar lainnya yang terkena dampak. Di antara tanda-tanda yang paling terlihat dari kelangkaan air ini, kata laporan itu, adalah 700 lubang runtuhan yang tersebar di dataran Konya yang banyak ditanami di Turki.

Jumlah konflik terkait air di seluruh dunia juga meningkat dari 20 konflik pada 2010 menjadi lebih dari 400 konflik pada 2024.

Umat ​​​​manusia juga mengurangi jumlah air yang tersedia dengan menghancurkan simpanan alam, seperti lahan basah, dan mencemari saluran air. Lahan basah yang luasnya setara dengan luas wilayah Uni Eropa telah terhapus dalam lima dekade terakhir, kata laporan itu.

Laporan tersebut menyerukan perubahan mendasar mengenai bagaimana air dilindungi dan digunakan di seluruh dunia. Hal ini mencakup pemotongan hak dan klaim pengambilan air untuk mengimbangi pasokan air yang semakin berkurang saat ini, dan transformasi sektor-sektor yang banyak menggunakan air, seperti pertanian dan industri, melalui perubahan tanaman, irigasi yang lebih efisien, dan sistem perkotaan yang tidak terlalu boros. Laporan ini menekankan dukungan bagi masyarakat yang penghidupannya harus berubah.

“Pengelolaan kebangkrutan air memerlukan kejujuran, keberanian, dan kemauan politik,” kata Madani. "Kita tidak bisa membangun kembali gletser yang hilang atau mengembalikan akuifer yang sudah sangat padat. Tapi kita bisa mencegah kerugian lebih lanjut, dan mendesain ulang institusi agar bisa hidup dalam batas hidrologi yang baru."