Bank BUMN Terdeteksi Danai Industri Baterai Kotor IMIP
Penulis : Aryo Bhawono
Tambang
Rabu, 14 Januari 2026
Editor : Yosep Suprayogi
BETAHITA.ID - Bank pelat merah diduga jadi pemain kunci pendanaan proyek pemurnian nikel di proyek pemurnian nikel berteknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) di Morowali. Yayasan Tanah Merah (YTM) mendesak praktik pendanaan kotor ini.
Direktur Pelaksana YTM, Richard Labiro, menyebutkan penelusuran pendanaan yang dilakukan lembaganya menemukan dominasi perbankan Tiongkok dan keterlibatan masif bank pelat merah Indonesia sebagai penyokong dana utama di balik ambisi proyek HPAL di Morowali, Sulawesi Tengah. Bank-bank dalam negeri, seperti BNI, BRI, Bank Mandiri, BCA, dan Bank Permata, diduga menjadi pemain kunci penyuntik dana pemurnian nikel di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).
“Dana ke proyek pemurnian nikel di bawah bendera PT IMIP total kredit mencapai 2,5 miliar dolar AS,” ucap dia melalui rilis pers yang diterima pada Senin (12/1/2025).
Menurutnya angka fantastis ini menunjukkan perbankan domestik seolah sedang berjudi dengan uang publik di tengah proyek HPAL. Padahal industri ini punya rekam jejak risiko lingkungan berat.
Aliran modal ini menjadi mesin penggerak industri nikel yang mengancam ekosistem pesisir, mengabaikan hak asasi manusia, dan melanggengkan praktik pendanaan kotor demi mengejar rantai pasok baterai kendaraan listrik global.
Dana tersebut, kata YTM, mengalir ke grup raksasa seperti PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) — kelompok Merdeka Grup (MDKA) — hingga perusahaan asing Nickel Industries (NIC) yang bermarkas di Sydney, Australia.
Analisis YTM menunjukkan struktur kepemilikan MDKA menggambarkan relasi kuasa politik domestik berkelindan dengan modal asing. Sejumlah nama disebut sebagai pemilik saham, dari menteri hingga pebisnis terkemuka.
Menurut YTM, selama ini bahaya limbah dari teknologi ini bukan isapan jempol. Merujuk pada PP Nomor 22 Tahun 2021, tailing resmi dikelompokkan sebagai Bahan Beracun dan Berbahaya (B3) Spesifik Khusus Kategori 2. Limbah ini menyimpan daya rusak kronis yang dampaknya bekerja dalam jangka panjang.
Ancaman limbah beracun yang dibawa oleh gunungan tailing ini tidak hanya mengintai kesehatan manusia hari ini, tapi juga menjadi bom waktu bagi kelestarian laut dan ruang hidup masyarakat dan buruh di masa depan.
YTM mendesak penghentian pendanaan kotor oleh bank-bank BUMN pada proyek HPAL karena merusak lingkungan. Selain itu mereka harus melakukan audit atas konflik kepentingan dari nama-nama yang terhubung dengan perusahaan penerima pendanaan itu.


Share
