Citizen Scientist Diajak Mengulik Ancaman Mikroplastik

Penulis : Aryo Bhawono

Sampah

Sabtu, 29 November 2025

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID -  Pencemaran mikroplastik kian susah dibendung seiring dengan tingginya penggunaan plastik sekali pakai. Kini kontaminasi tak hanya di air, udara, tanah, melainkan juga tubuh manusia. Kelompok pegiat lingkungan pun mulai memanfaatkan citizen science untuk mengukur ancaman mikroplastik yang berpotensi mengganggu kemampuan kognitif manusia. 

Untuk mencari tahu seberapa jauh penyebaran mikroplastik, Greenpeace Indonesia bersama Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) dan Jaringan Peduli Iklim dan Alam (Jarilima) mengajak warga Semarang, Jawa Tengah untuk ikut meneliti di mana saja mikroplastik ditemukan melalui uji coba Citizen Science. 

Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Ecoton menyebutkan pihaknya meminta peserta untuk membawa sampel dari rumah, seperti air minum, swab kulit, dan makanan, untuk kemudian diuji menggunakan mikroskop. 

“Selain itu, kami juga mengajak pengunjung menampung air hujan sebanyak 1–2 liter dari lingkungan sekitar mereka untuk mengetahui seberapa jauh penyebaran mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya melalui rilis pers usai acara “Roadshow The Invisible Threat of Microplastics” pada Selasa (25/10/2025). 

Seorang turis berjalan di tengah sampah plastik di Canggu, Bali. Foto: Made Nagi/ Green Peace

Hasil pengujian sampel ini menunjukkan adanya kontaminasi mikroplastik di sekitar kita, mulai dari air hujan, makanan, hingga pakaian. 

Riset terbaru Ecoton dan Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SIEJ) menyebutkan, Semarang menduduki posisi keempat sebagai kota dengan kontaminasi mikroplastik di udara paling tinggi. Penelitian yang dilakukan di 18 kota/kabupaten di Indonesia ini menemukan hubungan erat antara cemaran mikroplastik di udara dengan kebiasaan membakar sampah yang membawa partikel mikroplastik naik ke udara dan, pada akhirnya, ikut mencemari air hujan. 

“Komposisi polimer mikroplastik di udara Indonesia didominasi poliolefin yang berasal dari pecahan kantong plastik dan kemasan, disusul polyamide dan PTFE dari serat pakaian, komponen otomotif, dan pelapis tahan panas. Polyester dan polyisobutylene, yang umumnya berasal dari tekstil dan material ban, juga ditemukan di dalam sampel, menunjukkan beragamnya sumber polusi mikroplastik di udara” ungkap Rafika. 

Komposisi polimer mikroplastik di udara selaras dengan data sumber utama mikroplastik di 18 kota dan kabupaten. Pembakaran sampah plastik menyumbang 55 persen, sementara aktivitas transportasi berkontribusi 33,3 persen. 

“Korelasi ini, kata dia, menunjukkan bahwa profil polimer di udara sangat mencerminkan pola aktivitas manusia di kota mulai dari sistem pengelolaan sampah yang buruk, tingginya aktivitas transportasi, hingga beban tekstil rumah tangga.

Sedangkan sampel mikroplastik juga ditemukan pada tubuh manusia dilakukan melalui studi yang dilakukan Greenpeace Indonesia bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Mereka mengungkap, mikroplastik juga ditemukan di dalam urin, darah, hingga feses manusia. 

Studi yang dilakukan pada Januari 2023-Desember 2024 ini menemukan mikroplastik pada 95 persen sampel dari 67 partisipan. Jenis plastik PET (Polyethylene Terephthalate), yang biasa ditemukan di kemasan plastik sekali pakai seperti botol air minum dalam kemasan (AMDK), adalah jenis mikroplastik yang paling banyak mengontaminasi tubuh partisipan dengan total 204 partikel terdeteksi. 

Ahli Saraf FKUI dr. Pukovisa Prawirohardjo, SP.S(K)., Ph.D. mengatakan, hasil studi kolaborasi yang tengah dilakukan peer review ini menemukan partisipan dengan pola konsumsi plastik sekali pakai yang tinggi memiliki risiko mengalami penurunan fungsi kognitif hingga 36 kali lipat. 

“Kami menemukan hubungan yang berarti antara fungsi kognitif dengan paparan mikroplastik. Gangguan fungsi kognitif yang dialami partisipan penelitian mencakup diantaranya pengaruh pada kemampuan berpikir, mengingat, dan mengambil keputusan,” ujarnya. 

Fungsi kognitif partisipan dianalisis menggunakan Montreal Cognitive Assessment Indonesia (MoCA-Ina) dan dilakukan bersama tim dokter dari Divisi Neurobehavior Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM). 

Tingginya pencemaran mikroplastik yang kini telah menjadi ancaman kesehatan mencerminkan tingginya penggunaan plastik sekali pakai, baik secara lokal, nasional, maupun global. Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), terdapat total 434.244 ton sampah di tahun 2024 di Semarang. Sekitar 17,2 persen dari total sampah tersebut merupakan sampah plastik. Persentase ini sedikit lebih rendah dibanding komposisi sampah plastik nasional sebesar 19,78 persen dari total sampah di tahun lalu. 

Pada tingkat global, konsumsi plastik yang terus meningkat ikut menambah masalah sampah plastik di Bumi. Laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang bertajuk Policy Scenarios for Eliminating Plastic Pollution by 2040 menemukan adanya peningkatan sampah plastik di seluruh dunia hingga lebih dari dua kali lipat, dari 213 juta ton menjadi 460 juta ton sepanjang tahun 2000 sampai 2019. 

Koordinator Jaringan Peduli Iklim dan Alam (Jarilima) Ellen Nugroho mengatakan, acara Roadshow The Invisible Threat of Microplastics semakin memperkuat bukti bahwa mikroplastik kini telah masuk ke dalam tubuh manusia melalui air, makanan, bahkan udara yang kita hirup setiap hari. 

“Jika kita ingin mencegah anak-anak Semarang terganggu kesehatan dan tumbuh kembangnya akibat mikroplastik, kita harus mulai mengurangi plastik sekali pakai hari ini. Yang perlu diubah tidak hanya gaya hidup masyarakat, tapi juga sistem yang membuat kita sulit hidup tanpa plastik,” kata Ellen. 

Menurutnya pemerintah dan pengusaha harus terlibat mengubah cara produksi dan distribusi untuk mengatasi masalah ini.