Badak Jawa di Ujung Kulon Mulai Dipindahkan

Penulis : Kennial Laia

Satwa

Jumat, 29 Agustus 2025

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID -  Pemerintah Indonesia mulai melakukan program translokasi badak jawa di Taman Nasional Ujung Kulon. Ini merupakan langkah awal penyelamatan populasi satwa terancam punah tersebut. 

Badak jawa (Rhinoceros sondaicus) hanya bisa ditemukan di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, dengan populasi sangat terbatas, sekitar 80 individu pada 2022. Laporan investigatif Auriga Nusantara pada 2023 kemudian mengungkap, terdapat 15 individu yang terdeteksi kamera sejak 2021. Saat ini tidak diketahui berapa jumlah badak yang tersisa di habitat terakhirnya itu. 

Dalam dokumen yang diterima redaksi, dua badak akan dipindahkan ke fasilitas bernama Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) di dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Kedua badak, yakni Desi (betina) dan Musofa (jantan) akan ditangkap dengan lubang jebakan. Perkawinan keduanya diharapkan dapat menghasilkan susunan genetik baru yang lebih sehat dan tidak cacat. 

“Ini adalah tanggung jawab moral, sosial, dan politik kita bersama untuk memastikan anak cucu kita masih memiliki badak jawa 50, 100, 200 tahun, bahkan selamanya,” kata Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam kick-off meeting di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Jumat, 29 Agustus 2025. 

Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) . Dok.menkhk.go.id

Raja Juli mengatakan mendukung seratus persen program konservasi badak jawa dan spesies lainnya. Dia menyebutkan, kegiatan translokasi badak jawa tersebut dinamai Operasi Merah Putih. 

Dalam pertemuan tersebut, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Satyawan Pudyatmoko menyampaikan laporan terkait persiapan translokasi badak jawa. 

Di antaranya pembangunan fasilitas JRSCA yang telah selesai, termasuk kubangan dan kandang calon induk badak, pemilihan kedua badak dengan  haplotipe berbeda untuk menghindari perkawinan sedarah, serta persiapan survei jalur pergerakan badak dan lokasi lubang jebakan yang aman. 

Wakil Asisten Operasi Panglima TNI, Marsekal Pertama TNI Muhammad Taufiq Arasj mengatakan, pihaknya akan terlibat dengan menyediakan pengamanan, logistik, hingga transportasi laut, yakni alutsista Korps Marinir. "(Kami) siap mendukung upaya-upaya pelestarian badak jawa ini,” katanya.

Ketua Pengurus dan Direktur Eksekutif Yayasan Badak Indonesia (YABI) Jansen Manansang mengatakan, translokasi badak jawa menjadi harapan baru untuk keberlangsungan spesies tersebut. Pihaknya juga akan bekerja sama dengan pemerintah, termasuk pendekatan ilmiah dan spesialisasi dokter yang berkualitas dalam proses translokasi dan perkawinan badak tersebut. 

"Mari kita jadikan operasi Merah Putih ini sebagai momentum bersama untuk memperkuat kolaborasi dan menegakkan komitmen kita dalam menjaga Badak Jawa yang merupakan aset bangsa yang sangat penting juga mahal, hanya ada di Indonesia," ungkapnya.

Kajian ilmiah mengungkap, tanpa intervensi serius, spesies ikonik ini dapat punah kurang dari 50 tahun, karena rendahnya keragaman genetik, perkawinan sedarah, wabah penyakit, dan keterbatasan habitat.