Anoa: Kerbau Terkecil dengan Ancaman Terbesar

Penulis : Raden Ariyo Wicaksono

Biodiversitas

Senin, 01 April 2024

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID - Inilah ironi Kendari: Berjuluk "Bumi Anoa", tapi hewan itu susah ditemui di sana, bahkan oleh para pemburunya.  

Seorang mantan pemburu anoa bercerita kepada Panji Ariyo Kresna, Manager Program Lapangan, Aliansi Konservasi untuk Tompotika, bahwa dahulu mereka bisa mendapatkan 10 ekor anoa (Bubalus sp.) dalam sekali pergi berburu ke hutan. "Tapi sekarang mendapati 1 ekor anoa di hutan adalah keberuntungan," kata Panji, mengutip pengakuan pemburu yang kini menjadi salah satu tenaga lapangan Aliansi, Rabu (6/3/2024).

"Sudah sulit melihat anoa liar. Kendari itu dijuluki Bumi Anoa, tapi untuk melihat anoa liar harus ke luar kota," kata Panji.

Menurut Panji, anoa di habitat aslinya dari tahun ke tahun kian langka. International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List of Threatened Species bahkan mengkategorikan satwa endemik Pulau Sulawesi itu, yakni anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) dan anoa gunung (Bubalus quarlesi), sebagai spesies terancam punah (endangered).

Bayi anoa bernama Raden mencari makan di Anoa Breeding Center (ABC) BPSILHK, Manado, Sulawesi Utara, Kamis (2/2/2023)./Foto: Antara Foto/Adwit B Pramono/foc.

Menurut IUCN, tren populasi dua jenis satwa ini menurun (decreasing). Berdasarkan asesmen Juli 2014, populasi anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) sebanyak 2.499 individu. Sedangkan anoa gunung (Bubalus quarlesi), menurut hasil asesmen April 2016, populasinya berada di sekitar angka 2.500 individu.

Peneliti Spesies Yayasan Auriga Nusantara, Riszki Is Hardianto, mengatakan, di periode sebelumnya, yaitu 2009, jumlah populasi anoa dataran rendah diperkirakan masih berada di sekitar angka 5.000 Individu. Artinya, bila pada 2014 angka populasinya jadi sekitar 2.499 individu, maka bisa dikatakan separuh populasi anoa dataran rendah hilang hanya dalam waktu kurang lebih 5 tahun.

"Tingkat penurunannya diyakini lebih besar dari 20% selama dua generasi (14-18 tahun), dan tidak ada subpopulasi yang diyakini berjumlah lebih dari 250 individu dewasa. Anoa sudah dinyatakan Terancam Punah (Endangered) sejak 1986 sampai sekarang," kata Riszki, Kamis (21/3/2024).

Penurunan spesies ini, kata Riszki, terjadi di seluruh Sulawesi, terutama di semenanjung selatan dan timur laut, dengan penurunan yang disebabkan oleh perburuan dan hilangnya habitat. Ukuran populasi anoa saat ini, lanjutnya, belum dapat diketahui, karena belum ada survei di seluruh pulau atau regional, bahkan untuk populasi terbesar.

Status konservasi dan perlindungan anoa

Kondisi populasi anoa sebenarnya sudah sejak lama jadi perhatian pemerintah, pegiat konservasi, dan peneliti. Penelitian dan studi tentang anoa cukup banyak dilakukan, hampir tiap tahun. Jurnal hasil penelitiannya bisa dibaca atau diakses di beberapa situs, seperti di Google Scholar dan Open Knowladge Maps.

Dalam jurnal berjudul The Effect of Human Disturbance on the Spatial Distribution of Anoa (Bubalus Sp.) Using MaxEnt Modeling, para peneliti mencoba untuk melihat apakah gangguan manusia berpengaruh atau tidak terhadap distribusi spasial anoa. Hasilnya mereka menemukan bahwa pemukiman dan infrastruktur transportasi masing-masing hanya berkontribusi sebesar 4,3% dan 1,4%.

Sementara itu, elevasi, suhu, dan air memiliki kontribusi dominan yang melebihi 90%. Data ini mengindikasikan bahwa habitat anoa tidak terlalu sensitif terhadap gangguan manusia.

Meski begitu, kelangsungan hidup anoa masih terancam, disebabkan oleh perburuan liar, fragmentasi dan berkurangnya luas habitat. Anoa diburu untuk diperdagangkan dan dikonsumsi dagingnya, serta tanduknya dijadikan trophy.

Berkurangnya luas habitat disebabkan oleh konversi hutan untuk penggunaan lain serta menurunnya fungsi hutan untuk menunjang kehidupan anoa yang menyebabkan populasinya terus menurun. Selain itu pertambangan dan juga kegiatan lainnya yang terkait akan pertambangan serta kegiatan pengumpulan hasil hutan bukan kayu juga menjadi ancaman akan spesies ini.

Padahal spesies ini sudah lama menyandang status dilindungi, sejak 1931. Terbaru anoa dataran rendah maupun anoa gunung, juga menghuni daftar tumbuhan dan satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.106 Tahun 2018.

Selain itu anoa juga masuk dalam daftar spesies Appendix I Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES). Spesies yang masuk dalam daftar Appendix I adalah spesies yang dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional.

Spesies yang dimasukkan ke dalam kategori ini adalah spesies yang terancam punah bila perdagangan tidak dihentikan. Perdagangan spesimen dari spesies yang ditangkap di alam bebas adalah ilegal, diizinkan hanya dalam keadaan luar biasa.

Upaya konservasi anoa sebenarnya juga sudah sejak lama coba dilakukan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada Oktober 2013 juga sudah menerbitkan Peraturan Menteri Kehutanan No. P.54/Menhut-II/2013 tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Anoa (Bubalus depressicornis dan Bubalus quarlesi) tahun 2013-2022.

Menurut SRAK tersebut, beberapa upaya telah dilakukan untuk melestarikan anoa, di antaranya adalah dilakukannya workshop internasional ”Population and Habitat Viability Assessment” (PHVA) di Taman Safari I Cisarua Bogor pada bulan Juli 1996 dengan maksud untuk merumuskan kebijakan dan rekomendasi konservasi anoa, baik di habitat aslinya (in-situ) maupun di luar habitat aslinya (ex-situ) (Manansang et al., 1996).

Rekomendasi yang dihasilkan terbagi dalam tiga isu strategis yaitu pengelolaan anoa di habitat aslinya, pengelolaan anoa di penangkaran dan lembaga konservasi (ex-situ), serta model populasi anoa untuk memprediksi populasi anoa di masa mendatang dengan berbagai skenario pengelolaan. Namun upaya tersebut tidak terlalu berhasil.

Peta sebaran spesies anoa.

Keluarga Kerbau Terkecil

Sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti mengenai taksonominya (Groves 1969; Honacki et al. 1982; Wilson & Reeder 1993, Sugiri & Hidayat 1996) dan struktur populasi anoa (Shreiber et al., 1999 dan Burton et al., in prep.). Taksonomi anoa yang banyak digunakan saat ini seperti dinyatakan oleh Groves (1969), terdapat dua spesies anoa, yaitu anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) dan anoa gunung (Bubalus quarlesi). Terdapat variasi morfologi anoa dari berbagai daerah di Sulawesi.

Penelitian yang dilakukan oleh Burton et al. (in prep.) menunjukkan sedikitnya terdapat empat sub populasi anoa yang memiliki variasi genetik berbeda pada wilayah geografi yang berbeda di seluruh Pulau Sulawesi dan Pulau Buton. Sub populasi tersebut masing-masing terdapat di Pulau Sulawesi bagian utara, tengah, dan tenggara dan satu sub populasi di Pulau Buton.

Sedangkan di bagian selatan Sulawesi, data genetik masih sangat sedikit yang diketahui. Dalam pengelolaan populasi, variasi genetik pada wilayah geografi yang berbeda (longitudinal), serta perbedaan ketinggian (altitudinal) menjadi pertimbangan penting dalam menentukan kawasan prioritas untuk melindungi populasi anoa.

Anoa sendiri merupakan satwa dengan ukuran tubuh terkecil dalam marga kerbau, Bubalus, namun ada juga yang menganggap anoa sebagai sapi hutan atau sapi kerdil Sulawesi, karena secara morfologi lebih menyerupai sapi. Anoa termasuk salah satu satwa endemik Pulau Sulawesi dan Pulau Buton, dan sosoknya kerap dijadikan maskot fauna. Itu mengapa spesies ini berpredikat sebagai flagship species konservasi di Sulawesi.

Anoa gunung umumnya ditemukan di atas ketinggian 1.000 mdpl, dan anoa dataran rendah menghuni kawasan hutan di bawah 1.000 m dpl. Namun begitu, kedua spesies itu sering dijumpai hidup simpatrik, dapat ditemukan pada habitat yang sama.

Tak hanya di habitat aslinya, data menyebutkan populasi anoa yang berada di penangkaran jumlahnya sebanyak 257 individu, tersebar di Eropa, Amerika utara dan Asia. Selain di luar negeri, anoa juga terdapat di beberapa fasilitas yang dikelola lembaga konservasi ataupun di luar lembaga konservasi. Jumlah populasi anoa yang ada di lembaga konservasi sebanyak 20 individu, sedangkan yang ada di luar lembaga konservasi berjumlah 15 Individu.

Dilihat dari habitatnya, anoa termasuk jenis yang hidupnya tergantung pada hutan (forest dependent species), baik sebagai tempat berlindung maupun mencari pakan. Mereka membutuhkan hutan primer serta hutan yang relatif masih rapat tutupan vegetasinya.

Beberapa kawasan lindung utama diperkirakan memiliki populasi signifikan spesies ini, termasuk Taman Nasional Lore Lindu, Taman Nasional Bogani Nani-Wartabone, dan Cagar Alam Tanjung Peropa di Sulawesi, serta Suaka Margasatwa Lambusango di Pulau Buton.

Anoa sudah mengalami kepunahan di beberapa daerah, seperti semenanjung selatan dan bagian ujung dari semenanjung utara Sulawesi, Kepulauan Togian, Kepulauan Banggai, Pulau Wawonii, Pulau Muna, Pulau Kabaena, dan Kepulauan Tukang Besi.

Secara total ada 14 lokasi prioritas untuk konservasi anoa di Pulau Sulawesi dan 2 lokasi di Pulau Buton. Lokasi ini ditetapkan karena representasi subpopulasi yang diketahui, luas tutupan hutan dan keterhubungan antara satu lokasi dengan lokasi lainnya.

Dilihat dari siklus hidupnya, anoa merupakan satwa yang soliter umumnya ditemukan dalam kelompok satu atau dua ekor yaitu jantan dan betina dewasa pada musim kawin, atau induk beserta anaknya. Anoa juga termasuk satwa yang sulit didomestikasi meskipun sudah beberapa tahun dipelihara. Anoa bersifat lebih agresif saat musim birahi, atau induk yang sedang memiliki anak (Mustari 1995, 2003).

Anoa merupakan salah satu satwa liar yang relatif sulit berkembang biak karena hanya melahirkan 1 individu dalam sekali kelahiran dengan masa kebuntingan sembilan bulan. Jarak antar kebuntingan paling cepat 2 tahun, serta dewasa kelamin saat berumur 3 tahun untuk betina dan 4 tahun untuk jantan. Walaupun belum terbukti secara ilmiah, berdasarkan beberapa catatan di ex-situ, masa produktif anoa sampai dengan umur 20 tahun.