LIPUTAN KHUSUS:

Pembunuhan Aktivis Adat Remaja Terjadi Di Kolombia


Penulis : Aryo Bhawono

Hampir 100 anak di bawah umur di Kolombia dilaporkan direkrut secara paksa ke dalam kelompok bersenjata pada tahun 2021.

Masyarakat Adat

Jumat, 21 Januari 2022

Editor : Sandy Indra Pratama

BETAHITA.ID -  Pembunuhan seorang aktivis remaja, berusia 14 tahun, di Kolombia memicu teror bagi masyarakat adat. Pembunuhan ini memperpanjang rangkaian teror pembunuhan para pecinta lingkungan dan pemimpin sosial adat di negara Amerika Selatan ini. 

Aktivis itu bernama Breiner David Cucuname, seorang remaja suku Nasa. Ia ditembak hingga tewas saat berpatroli dengan Pengawal Adat, sebuah kelompok tidak bersenjata yang berusaha melindungi tanah adat dari serangan berbagai kelompok bersenjata di negara itu.

Association of Indigenous Councils of Northern Cauca (ACIN/ Asosiasi Dewan Adat Cauca Utara) melaporkan saat itu Cucuname tengah menemani ayahnya. Ia dan dua anggota patroli lainnya tewas dalam penyergapan itu. 

Otoritas pribumi menganggap anggota kelompok pemberontak yang sekarang didemobilisasi oleh Revolutionary Armed Forces of Colombia (Farc/ Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia), bertanggung jawab atas pembunuhan itu.

Masyarakat adat Lembah Amazon. Foto: FAO

Koordinator Hak Asasi Manusia untuk ACIN, Eduin Mauricio Capaz menyatakan pembunuhan Breiner adalah bagian dari fenomena yang terjadi selama bertahun-tahun. Kini kelompok bersenjata kembali mendominasi Kolombia.

“Penjaga adat adalah pelindung tanah dan lingkungan, dan Breiner mewakili itu,” kata dia seperti dikutip dari Guardian

Data yang dirilis pekan ini menunjukkan pada tahun lalu setiap pemimpin sosial dibunuh setiap 60 jam di Kolombia, mereka diantaranya pembela hak asasi manusia, aktivis komunitas, ataupun pencinta lingkungan.

Pada tahun 2021 ini jumlah korban penembakan mencapai 145 jiwa. Angka ini menurun dari tahun sebelumnya yang mencapai 182 korban penembakan. Namun tetap saja negara itu menjadi wilayah paling berbahaya di dunia bagi para aktivis.

“Kami sangat sedih dengan setiap kasus, karena dampaknya terhadap masyarakat,” kata Carlos Camargo, Anggota Ombudsman HAM. 

Pada 2016 lalu Pemerintah Kolombia pernah menandatangani kesepakatan damai dengan Farc, tentara gerilya terbesar di Amerika Latin kala itu. Banyak pihak berharap kekerasan seperti itu akan menjadi masa lalu. 

Kesepakatan damai itu, setidaknya di atas kertas, mengakhiri perang saudara berintensitas rendah selama beberapa dekade yang menewaskan lebih dari 260.000 orang dan memaksa 7 juta orang meninggalkan rumah mereka. Tentara Kolombia, kelompok paramiliter, pengedar narkoba, dan gerilyawan kiri lainnya berkontribusi pada pertumpahan darah.

Namun konflik terus mengganggu masyarakat di seluruh negeri dengan pembangkang Farc dan faksi bersenjata lainnya. Para pemimpin sosial menjadi pihak yang menanggung beban pertumpahan darah, yang dalam banyak kasus dipandang sebagai juru kesepakatan damai di akar rumput.

Analis senior International Crisis Group untuk Kolombia, Elizabeth Dickinson menyebutkan para pemimpin sosial menjadi sasaran karena mereka seringkali hadir sebagai segelintir penyuara bagi komunitas yang ketakutan dan trauma. Mereka bersedia berbicara menentang pengaruh kekerasan, baik terhadap komunitas mereka atau lingkungan.

“Ancaman terhadap aktivis bukanlah rahasia bagi siapapun; pemerintah telah diperingatkan tentang risikonya berulang kali oleh masyarakat, militer, ombudsman negara bagian,” kata Dickinson.

Pembunuhan remaja ini menunjukkan usia tak menjadi jaminan kekebalan atas kekerasan dan pembunuhan di Kolombia Tahun lalu, Francisco Vera, seorang aktivis berusia 12 tahun, menerima banyak ancaman pembunuhan untuk pidato publiknya menentang perusakan lingkungan.

Sepanjang dekade konflik di negara itu, kata Dickinson, anak-anak sering menanggung beban.

“Di daerah di mana Cucuñame dibunuh, hampir 100 anak di bawah umur dilaporkan direkrut secara paksa ke dalam kelompok bersenjata pada tahun 2021, seringkali dengan janji atau ancaman palsu. Anak-anak kehilangan orang tua karena kekerasan, terpaksa mengungsi, dan seperti dalam kasus ini, mengalami kekerasan secara langsung,” kata analis tersebut.