LIPUTAN KHUSUS:

Deforestasi Akibatkan Penyusutan Waktu Keselamatan Kerja


Penulis : Aryo Bhawono

Sekitar 5 juta orang telah kehilangan setidaknya setengah jam waktu kerja yang aman setiap hari.

Deforestasi

Senin, 27 Desember 2021

Editor : Sandy Indra Pratama

BETAHITA.ID -  Deforestasi sepanjang 15 tahun belakangan membuat kerja luar ruangan di daerah tropis kian tak aman. Waktu keselamatan kerja untuk kerja berat pun kian menyusut. 

Penyusutan jam keselamatan kerja ini disebabkan oleh meningkatnya suhu dan kelembaban udara akibat hilangnya pepohonan. Studi yang berjudul ‘Tropical Deforestation Accelerates Local Warming and Loss of Safe Outdoor Working Hours’ dalan jurnal One Earth, sebuah situs akses penelitian terbuka, menyebutkan deforestasi mengurangi fungsi pendingin yang dimiliki oleh pepohonan terhadap wilayah sekitarnya. Makin banyak pohon hilang maka akan terjadi peningkatan suhu lokal. 

“Karena perubahan iklim, area di daerah tropis berada di ambang batas yang dianggap aman atau nyaman untuk bekerja di pagi hingga sore hari. Dan kemudian terjadi deforestasi sehingga justru membuat area ini tak aman untuk menjadi lokasi kerja,” ucap Peneliti Duke University di North Carolina, Luke Parsons, seperti dikutip dari Guardian.

Parson terlibat dalam penulisan Jurnal One Earth. Studi yang dilakukannya bersama rekan peneliti lain mengurai data satelit dan meteorologi antara tahun 2003 dan 2018 di 94 negara dengan hutan tropis dengan melihat suhu dan kelembaban.

Deforestasi hutan Kalimantan Tengah./Foto: Ario Tanoto

Mereka menemukan hampir 100.000 orang, 90% diantaranya tinggal di Asia, telah kehilangan lebih dari dua jam waktu kerja dalam sehari. Sekitar 5 juta orang telah kehilangan setidaknya setengah jam waktu kerja yang aman setiap hari, sebagian besar dari mereka adalah pekerja luar ruangan yang melakukan pekerjaan fisik yang berat.

Efek peningkatan suhu dialami secara tak proporsional di lokasi yang mengalami deforestasi. Hilangnya 5 persen hutan di Amerika berdampak hilangnya waktu aman bekerja selama setengah jam. Sedangkan hilangnya 35 persen hutan mengakibatkan kerugian yang sama. 

Parson mengakui para peneliti tak dapat pergi ke setiap lokasi orang bekerja dan mengukur waktu bekerja mereka. Tetapi peneliti dapat membuat penilaian tentang waktu kerja aman yang hilang ini.

“Tetapi orang mungkin sering memilih untuk terus bekerja ketika terlalu panas dan lembab, yang merugikan kesehatan mereka,” ucapnya. 

Pemanasan global yang berkelanjutan dan hilangnya hutan diperkirakan akan memperbesar dampak ini. Sehingga hal ini akan mengurangi jam kerja bagi kelompok rentan bahkan lebih selama beberapa dekade mendatang. Paparan panas dapat mempengaruhi suasana hati dan penyakit mental.

“Serta mengurangi kinerja fisik dan psikologis, termasuk penyimpangan dalam konsentrasi, kelelahan, lekas marah, meningkatkan risiko kecelakaan,” kata Peneliti Sergio Arouca National School of Public Health di Brasil, Beatriz Oliveira. 

Beatriz tak terlibat dalam penelitian ini namun ia memberikan tanggapan dampak psikologis atas kondisi kerja.