LIPUTAN KHUSUS:

Melongok Data Industri Kelapa Sawit Indonesia


Penulis : Kennial Laia

Industrialisasi kelapa sawit di Indonesia dinilai belum seimbang. Produksi, kapasitas produksi, dan sebarang kilang tidak merata di setiap pulau penghasil sawit.

Sawit

Selasa, 21 Desember 2021

Editor : Sandy Indra Pratama

BETAHITA.ID -  Pemerintah semakin menggenjot pengembangan industrialisasi kelapa sawit. Sebagai salah satu produsen sawit terbesar di dunia, secara nasional Indonesia mampu memproduksi 47 juta ton crude palm oil (CPO) dari kebun eksisting yang mencapai luas 16,6 juta hektare.

Sementara itu, kapasitas terpasang pabrik kelapa sawit secara nasional adalah 84,8 juta ton. Untuk kilang (refinery), kapasitasnya mencapai 45,8 juta ton per tahun. 

Direktur Yayasan Auriga Nusantara Timer Manurung, terdapat ketimpangan antara kapasitas produksi CPO dengan kapasitas kilang jika dilihat berdasarkan provinsi atau pulau.

“Dari lebih dari 20 provinsi penghasil sawit, tidak semua seimbang antara proporsi produksi CPO dengan kapasitas pabrik yang ada di sana. Artinya, ada wilayah memiliki kilang, tapi tanpa kebun,” kata Timer dalam diskusi virtual, Kamis (16/12).

Ilustrasi industri kelapa sawit. Foto: Istimewa

Jika ditilik per pulau, maka perbedaan itu semakin mencolok. Berdasarkan data 2019, pulau Jawa memiliki kapasitas produksi CPO yang sangat kecil yakni 63 ton, dengan kapasitas produksi CPO sebesar 294 ton. Namun, meski kapasitas produksi terbatas, pulau ini memiliki kapasitas refinery besar mencapai 11.438 ton.

Sebaliknya terjadi dengan Tanah Papua. Beberapa tahun terakhir terjadi ekpansi besar-besaran bisnis perkebunan kelapa sawit dan kehutanan yang merangsek pulau ini. Produksi CPO pada 2019 mencapai 541.221 ton. Namun kapasitas produksi CPO hanya 478,5 ton. Meski produksi CPO sangat besar, Papua tidak memiliki kilang/refinery. 

Kemudian ada Sumatra yang memiliki sejarah panjang perkebunan kelapa sawit. Berdasarkan data Auriga, pada 2019, Sumatra memproduksi minyak sawit mentah sebesar 26.766 ribu ton. Sementara itu kapasitas produksi CPO dua kali lipat, mencapai 51.736 ton, dengan kapasitas refinery mencapai 27.725 ton.

Produsen besar lainnya, Kalimantan, memproduksi  18.836 ton CPO pada 2019. Sama seperti Sumatra, pulau ini memiliki kapasitas produksi CPO dua kali lipat dari realisasinya yakni 30.668 ton. Sementara itu kapasitas refinery (kilang) mencapai 4.839 ton. Angka ini berbeda drastis jika dibandingkan dengan produksi CPO. Saat ini mayoritas sawit yang dihasilkan di Borneo diproses di kilang-kilang milik korporasi sawit di Riau.

Pulau Sulawesi memiliki produksi CPO terkecil dibandingkan dengan pulau lainnya yakni 897 ton. Angka ini tidak jauh dari kapasitas produksi CPO yakni 1.617 ton. Sementara itu kapasitas refinery berada di angka 1.815 ton.

Melihat ketimpangan tersebut, Timer mengatakan agar pemerintah tidak melihat industrialisasi sawit dari rata-rata nasional. Menurutnya, harus ada upaya menyeimbangkan antara luas kebun/produksi CPO dan kapasitas kilang yang ada di setiap pulau.

“In yang harus diseimbangkan. Jika Indonesia ingin industrialisasi, maka pasokan dan produksi kebun harus seimbang,” tambahnya.