LIPUTAN KHUSUS:

Melepas Hutan Bersiap Menuai Amuk Deforestasi


Penulis : Raden Ariyo Wicaksono

Salah satu pemicu terbabatnya hutan alam di Tanah Papua itu adalah disebabkan banyaknya kawasan hutan yang dilepaskan menjadi areal penggunaan lain (APL).

Hutan

Rabu, 10 Februari 2021

Editor : Sandy Indra Pratama

BETAHITA.ID - Deforestasi atau hilangnya hutan alam di Tanah Papua (Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat) dalam dua dekade terakhir sudah menyentuh angka 663.443 hektare. Salah satu pemicu terbabatnya hutan alam di Tanah Papua itu adalah disebabkan banyaknya kawasan hutan yang dilepaskan menjadi areal penggunaan lain (APL).

Berangkat dari analisis data yang dilakukan Yayasan Auriga Nusantara, setidaknya terdapat kurang lebih 72 Surat Keputusan (SK) Pelepasan Kawasan Hutan (PKH) yang diterbitkan di Tanah Papua, dalam rentang waktu 1992 hingga 2019. Dari 72 SK PKH tersebut total kawasan hutan yang dilepaskan seluas 1.549.205,46 hektare.

Penerbitan 72 SK tersebut dilakukan oleh 8 Menteri Kehutanan. Bila ditanya pada era menteri siapa SK PKH paling banyak dikeluarkan, maka nama Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan akan muncul di peringkat pertama, dengan jumlah SK PKH yang diterbitkan sebanyak 37 SK. Luas areal kawasan hutan yang dilepaskan oleh Menteri Kehutanan yang menjabat pada 2009 hingga 2014 itu adalah seluas 887.113 hektare.

Di peringkat kedua, diduduki oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (MenLHK) Siti Nurbaya (2014-sekarang). Di era Menteri Siti Nurbaya, jumlah SK PHK yang diterbitkan sebanyak 15 SK. Dengan total luas kawasan hutan yang dilepaskan seluas 254.455 hektare.

Konsesi perkebunan kelapa sawit milik PT Agriprima Cipta Persada (PT ACP). Dok. Greenpeace.

Menteri Kehutanan yang banyak mengeluarkan SK PKH di Tanah Papua selanjutnya adalah Menteri MS. Kaban (2004-2009) dan Menteri Djamaludin Suryohadikusumo (1993-1998), yang sama-sama menerbitkan 6 SK PKH. Namun luas areal kawasan hutan yang dilepaskan dua Menteri Kehutanan ini luasannya berbeda. Menteri MS. Kaban melepaskan sekitar 152.634 hektare. Sedangkan Menteri Djamaludin, melepaskan kurang lebih 92.736 hektare.

Menteri Kehutanan Hasjrul Harahap, yang menjabat pada periode 1988 hingga 1993, tercatat menerbitkan 3 SK PKH di Tanah Papua, dengan total luasan sebesar 28.281 hektare.

Menteri Kehutanan Muslimin Nasution (1998-1999) dan Menteri Nur Mahmudi Ismail (1999-2001) juga tercatat pernah menerbitkan SK PKH di Tanah Papua pada eranya masing-masing. Keduanya sama-sama menerbitkan 2 SK PKH. Menteri Muslimin Nasution melepaskan 69.279 hektare dan Menteri Nur Mahmudi Ismali melepaskan 61.327 hektare kawasan hutan.

Dari 8 Menteri Kehutanan yang menerbitkan SK PKH di Tanah Papua itu, Menteri Muhammad Prakosa (2001-2004) menjadi menteri yang paling sedikit melepaskan kawasan hutan. Muhammad Prakosa hanya menerbitkan 1 SK PKH saja di Tanah Papua dengan luasan sekitar 3.380 hektare

SK-SK PKH yang diterbitkan oleh para Menteri Kehutanan yang menjabat dari 1992 hingga 2019 itu sebagian besar diberikan untuk pembangunan sektor pertanian, baik pertanian tanaman pangan maupun perkebunan, dengan total luas areal 1.461.577 hektare. Sisanya diberikan untuk pembangunan kawasan ekonomi khusus, pembangunan jaringan jalan dan lain-lain.

Angka 1.461.577 hektare itu didominasi oleh usaha perkebunan sawit. Total areal kawasan hutan yang dilepaskan untuk industri ekstraktif satu ini seluas 1.307.780 hektare, atau sekitar 84 persen dari total pelepasan kawasan hutan di seluruh Tanah Papua, berasal dari 57 SK PKH.

Berdasarkan data analisis citra satelit, dari total 1.549.205,46 hektare hutan alam yang dilepaskan itu, sekitar 1.292.497 hektare kondisinya masih bertutupan hutan. Namun hingga 2019 lalu, 145.595 hektare di antaranya telah terdeforestasi.

Data deforestasi ini diperoleh melalui kombinasi dataset Global Forest Change dari Global Land Analysis and Discovery (GLAD) University of Maryland dan peta penutupan lahan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Deforestasi tahunan dikalkulasi berdasar year of gross forest cover loss event (tree cover loss) 2001-2019 dalam tutupan hutan alam KLHK untuk tahun 2000. Artinya, deforestasi dimaksud hanya tree cover loss pada tutupan hutan alam KLHK untuk tahun 2000, tapi tidak semua tree cover loss pada GLAD.

Tutupan hutan alam merupakan gabungan dari 6 kelas penutupan lahan KLHK. Yakni hutan lahan kering primer, hutan lahan kering sekunder, hutan rawa gambut primer, hutan rawa gambut sekunder, hutan mangrove primer dan hutan mangrove sekunder.

"Tree cover loss merupakan cara untuk mendeteksi kehilangan tutupan kanopi (stand replacement disturbance) pada resolusi 30x30 meter, sebagaimana ukuran setiap pixel Landsat," terang Dedi Sukmara, Direktur Informasi dan Data, Yayasan Auriga Nusantara, Kamis (4/2/2021).

Dengan data tersebut dapat diartikan, hingga 2019 lalu terdapat tutupan hutan alam seluas sekitar 1.145.902 hektare, yang berada di dalam areal PKH yang diberikan untuk pembangunan perkebunan sawit. Hutan alam tersisa itu tentu saja hanya menunggu giliran untuk terbabat dan menambah angka deforestasi di Tanah Papua.

Angka Deforestasi Hutan di 10 Provinsi Kaya Hutan di Indonesia

Masih berdasarkan data Yayasan Auriga Nusantara, tutupan hutan alam nasional di Indonesia mencapai 88 juta hektare. Dari angka tersebut, 80% berada di 10 provinsi kaya-hutan, seperti Papua, Papua Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Aceh, Maluku, dan Maluku Utara.

Hutan alam terluas tumbuh megah di Tanah Papua, angkanya mencapai 33,84 juta hektare. Sementara itu, di Pulau Borneo tercatat tutupan hutan seluas 7,27 juta hektare berada di Kalimantan Tengah; Kalimantan Timur 6,49 juta hektare; Kalimantan Utara 5,66 juta hektare; dan Kalimantan Barat 5,51 juta hektare.

Di wilayah timur, Kepulauan Maluku memiliki tutupan hutan seluas 4,98 juta hektare dan Sulawesi Tengah 3,80 juta hektare. Di sebelah barat, tepatnya Nangroe Aceh Darussalam, kanopi hutannya mencapai 3,06 juta hektare.

Ke-10 provinsi ini mengalami penurunan dalam rentang waktu 2015-2019. Analisis Auriga mengungkap, total deforestasi di 10 provinsi pada periode tersebut mencapai 1.854.317 hektare. Hilangnya tutupan hutan tertinggi terjadi pada 2015-2016.

Deforestasi tertinggi terjadi di Kalimantan Tengah pada 2016, dengan luas lebih dari 400 ribu hektare. Tahun yang sama, Kalimantan Timur kehilangan 367 ribu hektare dan Kalimantan Barat 305 ribu hektare, serta Tanah Papua di angka 290.160 hektare.

Berikut merupakan 10 provinsi kaya-hutan dengan angka deforestasi selama rentang waktu 2015 hingga 2019.

Kalimantan Tengah

Selama periode 2015-2019, Kalimantan Tengah kehilangan 411.027 hektare hutan alam. Pada 2015, deforestasi di provinsi tersebut tercatat seluas 79.423 hektare. Lalu melonjak drastis pada 2016 ke 197.192 hektare. Kemudian turun ke 45.980 hektare (2017), 44.263 hektare (2018), dan 44.167 hektare (2019).

Kalimantan Timur

Total deforestasi di Kalimantan Timur selama periode 2015-2019 adalah 367.329 hektare. Tahun 2016 mencatat angka tertinggi, dengan luas 110.195 hektare; disusul 2015 seluas 77.919 hektare. Sementara itu 2017-2019 cenderung turun, secara berurutan 55.812 hektare; 69.225 hektare; dan 54.176 hektare.

Kalimantan Utara

Kalimantan Utara mencatat luas deforestasi tertinggi pada 2015 dengan luas 36.735,95 hektare. Angka itu turun empat tahun berikutnya: 28.925 hektare pada 2016; 24.755 hektare pada 2017; 27.244 hektare pada 2018; dan 22.403 hektare pada 2019. Total kehilangan tutupan hutan di provinsi ini adalah 140.063 hektare selama periode 2015-2019.

Kalimantan Barat

Kalimantan Barat kehilangan hutan alam seluas 305.812 hektare antara 2015 dan 2019. Penggundulan tertinggi terjadi pada 2015 seluas 111.154 hektare, kemudian turun menjadi 83.096 hektare pada 2016. Antara 2017-2019, tutupan hutan alam yang hilang berturut-turut adalah 42.303 hektare32.630 hektare, dan 36.627 hektare.  

Tanah Papua (Papua dan Papua Barat)

Ekspansi perkebunan sawit di Tanah Papua masif dalam satu dekade terakhir. Hal ini tercermin dari total luasan deforestasi yang mencapai 290.160 hektare antara 2015 dan 2019. Deforestasi tertinggi terjadi pada 2015 dengan luas 87.966 hektare di Papua dan Papua Barat; disusul tahun 2016 seluas 77.998 hektare. Tiga tahun berikutnya penggundulan hutan tetap terjadi, dengan skala lebih kecil. Tahun 2017 seluas 47.476 hektare; 2018 seluas 39.949 hektare; dan 2019 seluas 36.769 hektare.  

Kepulauan Maluku (Maluku dan Maluku Utara)

Total luas deforestasi di Kepulauan Maluku dalam rentang waktu 2015-2019 mencapai 110.398 hektare. Kehilangan tutupan hutan tertinggi terjadi pada 2015 seluas 45.136 hektare. Kemudian turun menjadi 31.863 hektare. Angka itu sempat turun drastic pada 2017 seluas 8.403 hektare. Namun naik lagi pada 2018 (11.211 hektare) dan 2019 (13.783 hektare).

Sulawesi Tengah

Antara 2015 dan 2019, Sulawesi Tengah kehilangan tutupan hutan seluas 157.273 hektare. Deforestasi tertinggi terjadi pada 2015 (55.504 hektare) dan 2016 (48.117 hektare). Tiga tahun berikutnya, luas deforestasi berada di 16.964 hektare (2017), 17.069 (hektare), dan 19.616 hektare (2019).

Aceh

Serambi Makkah mengalami penggundulan hutan seluas 72.251 hektare dalam rentang waktu 2015-2019. Dari 2015 hingga 2018, deforestasi berada di rentang 14.000 hektare – 17.000 hektare, dengan angka tertinggi seluas 17.608 hektare pada 2016. Luas itu menurun menjadi 9.846 hektare pada 2019.