LIPUTAN KHUSUS:
Nanaku: Detektor Iklim Masyarakat Kepulauan Banda
Penulis : Jaya Barends, MALUKU
Nanaku adalah alarm mitigasi awal sebuah peristiwa iklim yang akan terjadi di Kepulauan Banda. Masyarakat menggunakannya bersama aplikasi iklim di ponsel.
Iklim
Rabu, 01 April 2026
Editor : Yosep Suprayogi
BETAHITA.ID - Awan hitam menjuntai di atas badan laut Pulau Ay, Kecamatan Banda, Maluku Tengah, suatu sore pertengahan Desember 2025. Bentuknya horizontal, serupa ombak raksasa—diiringi embusan angin munson barat dan hujan deras. Pemandangan ini, tidak lazim bagi Ayu.
Raut wajah mahasiswi Universitas Indonesia (UI) itu, tampak gusar. Ekspresinya datar kala melihat ombak silih berganti menghantam tembok talud.
Ayu pun beranjak dari halte pelabuhan rakyat setelah melihat ombak yang berkecamuk. Kemudian menuju sebuah rumah warga berjarak sepelemparan batu, menyantap bakso. Saat itu, ia bersama Salsa, seniornya dari Departemen Geografi FMIPA UI.
Di tengah mencicipi kudapan, Ayu berharap cuaca buruk segera reda. “Tidak berombak lagi, supaya bisa segera kembali ke Naira,” ujarnya kepada Betahita.
Salsa mengamini harapan Ayu, lalu bergumam, ”Karena kita harus melanjutkan perjalanan lagi ke Pulau Rhun dan pulau-pulau lain.” Keduanya rupanya tengah meneliti ritual masyarakat adat di Kepulauan Banda. Salah satu objek yang didata dan dikaji adalah buka kampung.
Meski begitu, Ayu dan Salsa menyadari keinginan tersebut sukar terwujud saat Desember. Sebab di bulan ini pula, Kepulauan Banda dengan iklim munson tropis unimodal sedang mengalami pancaroba—peralihan angin munson Barat ke Timur—dengan angin kencang, gelombang tinggi, dan hujan.
Menukil Buku Saku Klimitologi BMKG, tipe unimodal disebut hanya memiliki satu puncak musim hujan. Desember, Januari hingga Februari adalah masa penghujanan. Sedangkan Juni, Juli hingga Agustus menjadi masa kemarau.
Namun Subuh Sidek, warga setempat, bilang cuaca buruk hanya terjadi hari ini. “Besoknya laut akan teduh,” dia mengklaim.
Pria 45 tahun itu mengatakan hal tersebut setelah melihat kemunculan gugusan Pulau Seram selepas hujan. Kepercayaan mengamati tanda alam dan perilaku hewan atau Nanaku telah dipraktikan turun-temurun di Negeri Administratif Pulau Ay. Hasil prakiraannya pun dianggap akurat.
“Kan, sekarang lagi musim ombak. Tetapi kalau Pulau Seram terlihat pertama kali pada Desember, laut teduh,” ungkapnya kepada Betahita. “Beda lagi kalau Pulau Seram terlihat kedua kalinya, pertanda laut akan berombak.”
Ayu dan Salsa turut mendengarkan percakapan pada Rabu, 17 Desember 2025, ini.
Subuh adalah pekebun plus nelayan. Sebelum melaut, biasanya ia melakukan Nanaku, meski pada ponselnya tersemat aplikasi visualisasi prakiraan cuaca.
Ia akan mengamati perilaku mahluk hidup seperti burung darah laut. Bila burung terbang rendah, mendekati badan laut, pertanda embusan angin lagi kuat.
Ada pula awan bergaris dua berwarna hitam. Jika satunya tidak terlihat berarti alaran adanya cuaca buruk. Nanaku lain, kalau hujan hari Jumat, pertanda hujan mengguyur sepekan.
Rupanya Ayu menyimak uraian Subuh secara saksama. Namun raut wajahnya seakan ingin mengonfirmasi keakuratan Nanaku tersebut. Maklum, ini perjalanan perdananya ke Kepulaun Banda dengan durasi sebulan.
Seorang awak perahu cepat tengah berdiri memantau pergerakan angin. Foto: Jaya Barends
Ayu kemudian mendapat konfirmasi langsung dari alam. Kamis, 18 Desember 2025, dia dan Salsa menaiki speedboat bareng warga Pulau Ay. Transportasi reguler ini digerakan tiga mesin berkapasitas 40 tenaga kuda.
Pagi itu, angin semilir menyapa perairan Pulau Ay. Diselingi pemandangan terumbu karang asri yang tampak dari permukaan air. Speedboat pun perlahan-lahan meninggalkan perairan jernih dengan degradasi warna biru tosca.
Speedboat kemudian melesat cepat membelah laut yang teduh, tak lebih dari satu jam tiba di Naira. Ayu pun takjub dengan keakuratan kearifan lokal sebagai acuan pelayaran ternyata prediksinya tepat.
Padahal, perjalanan sebelumnya menuju Pulau Ay dari Naira sangat berbeda. Speedboat yang ditumpanginya dihantam ombak bertubu-tubi dari sisi kiri-kanan maupun bagian depan.
“Kalau ini aman, lancar dan sepanjang perjalanan tidak khawatir,” ungkapnya.
Deteksi Bencana di Tengah Anomali Cuaca
Terkait akuratnya prediksi Nanaku, Mezak Wakim mengatakan Nanaku memang berfungsi sebagai peringatan dini. Selain itu, Nanaku dapat mendeteksi potensi bencana di darat maupun laut.
“Nanaku adalah alarm mitigasi awal sebuah peristiwa yang akan terjadi,” jelasnya.
Pamong Budaya Ahli Muda Balai Pelsetarian Budaya XX Maluku itu melanjutkan budaya ini lahir dari pengamatan peristiwa berulang sejak dahulu kala, dari tanda alam hingga hewan. Bahkan pihaknya telah merekam literatur Nanaku dalam bentuk studi. Di antaranya, tradisi melaut dan menghadapi musim pancaklik.
Kearifan lokal tradisional khas dari Maluku itu, menurut Mezak, tetap bisa dipraktikan di tengah krisis iklim. Meski begitu, ia menyadari dampak perubahan iklim kini telah menggeser pola peralihan munson, termasuk membikin cuaca tak menentu. Kondisi demikian juga terjadi di Kepulauan Banda.
Rupanya dampak krisis iklim yang menerpa Kepulauan Banda dengan tipe iklim munson pernah diteliti S. Laimeheriwa [2014]. Pakar Agroteknologi, Universitas Pattimura Ambon ini menggunakan data curah hujan 60 tahun pengamatan medio 1954-2013. Data didapat dari Kantor BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Namlea.
Hasil analisisnya menemukan, telah terjadi perubahan curah hujan dalam periode 30 tahun, kalau dibandingkan dengan periode sebelumnya, 1954-1983. Curah hujan tahunan, cenderung bertambah sebesar 17,8 % atau 239 milimeter (mm). “Naik dari 1340 mm menjadi 1579 mm,” kata dia. Persentase perubahan terbesar juga pada musim hujan Desember-Mei, yakni sebesar 19,3% atau 180 mm. Naik dari 933 mm menjadi 1113 mm.
Sedangkan curah hujan musim kemarau Juni-November bertambah sebesar 14,5% atau 59 mm. Melonjak dari 407 mm menjadi 466 mm. Selanjutnya, peningkatan curah hujan pada Juli 10 mm, Agustus 31 mm, Oktober 18 mm dan November 6 mm.
“[Namun] curah hujan Juni mengalami penurunan sebesar 6 mm dan September tidak terjadi perubahan curah hujan,” ungkapnya.
Bahar Harun, Sekretaris Negeri Administrasi Pulau Ay membenarkan telah terjadi perubahan curan hujan tahunan. Puncaknya mulai terasa sejak 2023-2025, lebih banyak hujan sepanjang tahun di Pulau Ay. Fase kemarau akhirnya menyempit.
“Tiga tahun terakhir musim penghujanan lebih banyak ketimbang kemarau,” kata Bahar.
Meski begitu, Mezak mengatakan konsep Nanaku masih tetap dapat digunakan. Sebab ada Nanaku berlaku umum dan ciri khas lokal wilayah masing-masing di Maluku. Penyebutan di tiap wilayah berbeda-beda: petua orang tatau; tandu-tandu; ramalan; Nanaku dan kotika.
“Nanaku merupakan mitigasi lokal ya, dengan pengetahun lokal masing-masing wilayah.”
Penjelasan Mezak ada benarnya. Di Pulau Ay, misalnya pada Desember tanaman lampion (Physalis alkekengi) berbunga di tengah anomali iklim. Isyarat sedang berlangsung peralihan munson timur ke pancaroba barat disertai hujan.
“Kita bisa menerka musim pancaroba maupun pergantian siklus munson timur ke barat dengan melihat bunga lampion berbunga,” ungkap Bahar.
Beda lagi adaptasi warga Negeri Salamun. Sebagian dari mereka hingga kini masih memantau Gunung Kumber untuk mengetahui cuaca harian.
Kuncibuk, nama lain gunung tersebut, kalau puncaknya diselemuti kabut tebal pertanda embusan angin landai dan laut pun teduh. Namun bila tidak ada kabut, angin sedang kencang dan laut lagi berombak.
Uniknya lagi dari negeri di ujung timur Pulau Banda Besar, dapat memantau siklus peralihan munson dalam setahun. Saat pancaroba munson barat, matahari terbenam pada sisi kanan di antara Gunung Lewarani dan Tujuh.
Siklus demikian terjadi September, Oktober dan November. Secara bersamaan juga terjadi air surut di pantai pukul 13.00-18.00 WIT.
Selanjutnya munson barat, dimulai Desember dengan matahari terbenam pada sisi kiri. Air surut otomatis berpindah pukul 05.00-80.00 WIT.
Gulhan Huisein, Sejarawan Negeri Salamun mengatakan tanda alam yang menjadi patokan untuk Nanaku masih bisa dipercaya. Baginya, akurasi dapat mendekati 70 hingga 80 persen.
“Jadi boleh krisis iklim, tapi kan tanda alam tidak bisa berubah,” ujarnya.
Klaim Gulhan turut didukung Ramly Astar, Raja Negeri Administratif Lautang. Ramly mengatakan nelayan dan petani di kampungnya kini masih menggunakan Nanaku untuk melaut dan bercocok tanam.
Ramly pun menjelaskan Nanaku khas negerinya berkaitan pengamatan peralihan munsoon. Fase monsoon barat patokannya, kata dia matahari terbit sisi kiri Pulau Hatta. Sedangkan munsoon timur, matahari terbit bagian kanan pulau.
“Nelayan biasanya pakai untuk mengamati peralihan monsoon sebelum pergi mencari ikan,” katanya. Ada pula Nanaku khas lain untuk memantau ombak saat peralihan munson barat ke timur. Nelayan biasanya mengamati pasir di pantai.
“Pasir akan berpindah dari kiri ke kanan akibat dipukul ombak. Selama pasir belum berpindah, tetap masih ada ombak meski sudah masuk Oktober.”
Nanaku itu diamati oleh nelayan Negeri Lautang yang hendak memancing jarak jauh. Hasil Nanaku lalu dianalisis dengan aplikasi prakiraan cuaca dan informasi BMKG.
Anomali Perubahan Pola Angin
Aktivitas warga di Pesisir Pantai Pulau Ay, Maluku Tengah. Foto: Jaya Barends
Beda lagi cerita Juanda, nelayan asal Pulau Ay ini nyaris kecelakaan di laut akibat dampak anomali iklim. Kala itu, dia tengah mencari ikan tuna saat munson timur di Perairan Pulau Manukang, pertengahan September 2025. Namun pukul 12.00 WIT, tiba-tiba, angin barat laut berembus kencang.
Setelah berhenti, diikuti semelir angin utara. Sejurus kemudian diikuti angin timur laut. “Tidak semestinya angin barat berembus saat munsoon timur,” katanya.
Kejadian yang di alami Juanda, merujuk situs www.un.org, terjadi akibat perbedaan suhu antara daratan dan laut yang menjadi penggerak utama angin muson. Kondisi ini disebabkan dampak dari krisis iklim. Anomali iklim juga mempengaruhi cuaca dan iklim lebih ekstrem. Sistem iklim yang dulunya stabil, kini sulit diprediksi, tulis situs www.mooc.ugm.id.
Juanda menceritakan, pola angin tidak sesuai siklus munson dialami sejak 2024 dan 2025. Perubahan drastis pada ketinggian ombak, kini mencapai 5 meter pada Oktober-November.
“Ombak tinggi sekali dengan durasi yang panjang. Padahal dulunya tidak begitu bila angin timur menenggara berembus pada bulan-bulan tersebut.”
Keadaan itu mengakibatkan perahu sampannya mati mesin dan nyaris terbalik. Untuk kembali dari Pulau Manukang menuju Pulau Ay, Juanda terpaksa membentangkan layar mengikuti arah bintang barat laut.
Bintang tersebut dimanfaatkan para nelayan sebagai penanda menuju Pulau Ay. Pasalnya, posisi bintang berada di bagian barat, tepatnya di atas langit pulau.
Ada pula bintang selatan, umumnya diamati nelayan di Kepulauan Banda, yang memprediksi angin kencang dan ombak bila bintang berubah warna menjadi merah.
Warnanya juga sekaligus penanda musim hujan dan pergantian musim barat.
Jika bintang menyala, mati, lalu hidup kembali menandakan angin kencang sebentar lagi berembus di malam hari. Selain bintang, ada juga awan hitam, abu-abu, dan biru. Tanda ini biasanya dilihat saat pancaroba munson barat ke timur dan sebaliknya.
Kalau awan seperti begitu terlihat, angin barat daya dan barat daya laut akan bertiup kencang.
Menanggapi praktik Nanaku di Kepulauan Banda, antropolog Pieter Pelupessy menyebutkan sistem Nanaku adalah usaha masyarakat di Kepulauan Maluku menopang hidup secara tradisional. Namun dalam praktik, terdapat perbedaan antara masyarakat Pulau Buru, Ambon dan Lease, serta Pulau Seram.
Perbedaannya pada waktu perhitungan bulan di langit. Istilah masyarakat lokal ada bulan terang dan bulan gelap. Pengamatan bulan untuk mengetahui arah angin bertiup.
“Arah angin membawa awan dan awan akan menjatuhkan hujan di wilayah mana. Pengetahuan tradisional ini dipakai untuk berlayar dan bertani,” kata pensiunan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Pattimura Ambon itu.
“Dan perhitungan bulan adalan sistem utama dari Nanaku.” Makanya tak pelak, kedatangan puting beliung di Kepulauan Banda diamati melalui angin dan awan.
Bahar Harun, Sekreraris Negeri Administrasi Pulau Ay mengatakan tornado skala kecil awalnya muncul ditandai gumpalan awan gelap. Bentuknya kemudian menyerupai tombak.
“Pusaran angin mengikuti arah angin. Kerap terjadi di Pulau Ay pada saat angin barat, barat laut, dan barat daya,” kata dia.
Bila awan cumulonimbus pusarannya menuju Pulau Ay saat angin barat, permukiman terancam. Bahar mengatakan pada 2023 dan 2024 pusaran ini membikin rumah rusak akibat tersapu puting beliung.
“Biasanya kalau sudah melihat tanda-tanda demikian, para tua adat melakukan upaya antisipasi,” jelasnya.
Tiga tahun belakangan, intensitas angin puting beliung terjadi lebih sering saat muson barat pada Desember-Februari. Pulau Ay, Salamun, dan Lautang paling rentan terhadap fenomena alam tersebut.
Di Negeri Salamun bila puting beliung muncul saat angin barat laut putarannya sampai ke permukiman warga dan mengakibatkan rumah rusak. Sementara Negeri Lautang angin puting beliung biasanya mengenai permukiman warga bila muncul saat angin barat laut.
“Kalau puting beliung mengikuti angin barat dan barat laut daya mengenai hutan. Tepat di sisi kiri kampung yang tidak ada permukiman,” jelas Harun Astar, nelayan asal Negeri Lautang.
“Ciri khas umumnya di Lautang angin gelap disertai abu menyeruak ke udara.”
Harun mengungkap selain intensitas angin puting beliung yang sering, tiga tahun belakangan ini cuaca makin ekstrem dan sulit diprediksi.
Berdasarkan dokumen Kajian Resiko Bencana (KRB) Nasional 2022-2026, di Provinsi Maluku, masyarakat Kabupaten Maluku Tengah menempati urutan pertama warga paling rentan terhadap cuaca ekstrem. Kategori kelas ancamannya berstatus sedang.
Namun, potensi kerugian bencana cuaca ekstrem justeru berstatus tinggi. Kepala BPBD Maluku Tengah, Nova Annakota mengatakan sebagai upaya antisipasi dan pencegahan, pihaknya terus melakukan imbaun kepada masyarakat.
“Saat cuaca reguler yang dianggap berpotensi terjadi cuaca buruk pada bulan tertentu, baik pada musim barat dan timur, selalu dikeluarkan imbauan dan peringatan dini,” katanya.
Liputan ini didukung Yayasan SAHARI dan Caritas Germany.

Share

