Berita
9 Keping Plastik Ditemukan dalam Tiap ML Sampel Darah Warga Jatim
Sementara dalam sampel sperma ada 6-7 keping mikroplastik per mililiter.
Rabu, 15 April 2026

BETAHITA.ID - Riset menunjukkan temuan terbaru mengenai keberadaan partikel nano dan mikro plastik (NMPs) di dalam sistem peredaran darah manusia. Polimer tekstil menjadi penyumbang terbesar kontaminasi NMPs pada darah manusia.
Penelitian Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON) menemukan rata-rata 9 partikel mikroplastik /1 ml darah pada 30 subjek perempuan (20 pekerja sampah dan 10 mahasiswa berdomisili di Blitar, Pacitan, Magetan, Lamongan dan Malang). Temuan ini merupakan kelanjutan atas studi awal yang mereka lakukan untuk mengidentifikasi mikroplastik dalam sperma dan air ketuban ibu hamil pada Februari 2026 lalu.
Sebanyak 4 sample sperma ditemukan kontaminasi 6-7 partikel mikroplastik (ukuran 1,5–7,9 mikrometer) berpolimer polyethylene.
Manager Science, Art, and Communication Ecoton, Prigi Arisandi, menyebutkan temuan ini menjadi sinyal merah bagi kesehatan publik, terutama karena jenis polimer yang paling mendominasi adalah Polyester (28%) yang merupakan tulang punggung industri pakaian dan tekstil modern.
Awalnya tim ragu terkait dengan ukuran plastik yang masuk kedalam darah manusia. Ukuran eritrosit atau sel darah merah antara 6-8 Mikrometer (µm) rata-rata 7,2 µm. Sedangkan ukuran Mikroplastik masih dalam millimeter.
“Definisi mikroplastik adalah pecahan plastik dengan ukuran dibawah 5 mm hingga 1 µm atau 1 per 1000 milimeter” ucapnya melalui rilis pers yang diterima pada Selasa (14/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa jika plastik dalam ukuram millimeter tidak bisa masuk kedalam eritrosit namun jika ukurannya dibawah 5 µm maka plastik ini bisa masuk kedalam eritrosit. Untuk memastikan ukuran µm Team Ecoton berkolaborasi dengan Scientific Imaging Centre (SIC), Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Jumat 10 April 2026.
SIC merupakan fasilitas pendukung untuk riset visual kolaborasi antara ITB, Evident, dan PT Widya Prima Mulia yang menyediakan fasilitas pemantauan material dengan ketepatan hingga 10 nanometer (1 nano = 1/1.000.000 mm) menggunakan Scanning Electrone Microscop (SEM).
Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, Rafika Aprilianti, menyebutkan selain ketepatan pengukuran hingga 10 nanometer, SEM bisa mendeteksi unsur-unsur penyusun material.
“Dengan menggunakan SEM kami menemukan nano plastik dalam darah dan sperma dengan ukuran 200-800 nanometer. Jenis nanoplastik yang ditemukan adalah jenis fiber dan fragmen,” kata dia.
Ukuran Nano Plastik Lebih Kecil dari Pembuluh Darah
Penelitian menunjukkan partikel yang ditemukan berukuran antara 0,40 mikron hingga 10 mikron. Ukuran ini jauh di bawah diameter pembuluh rambut (kapiler) manusia yang berkisar 5-10 mikron, dan pembuluh arteriol 8-100 mikron. Artinya, partikel plastik ini memiliki kemampuan mekanis untuk menembus jaringan terdalam, mengalir tanpa hambatan di arteriol, dan berinteraksi langsung dengan sel-sel vital di dalam tubuh.
Selain Polyester (28%), polimer lain yang terdeteksi meliputi Polyisobutylene (24%), Polyethylene (PE, LDPE, HDPE total 32%), dan PET (16%).
Dampak Kesehatan: Dari Kerusakan Sel hingga Risiko Stroke.
Keberadaan benda asing sintetis ini di dalam darah memicu rentetan reaksi biologis yang berbahaya. Pertama, bagi sel darah merah & hemoglobin. NMPs berinteraksi langsung dengan membran sel darah merah, menyebabkan risiko pecah sel (hemolisis) yang melepaskan hemoglobin ke plasma darah. Hal ini memicu penggumpalan sel yang berisiko menyumbat pembuluh darah, meningkatkan ancaman stroke dan penyakit kardiovaskular.
Kedua, sistem imun mengalami kelelahan. Sel darah putih (makrofag) mencoba "memakan" plastik tersebut namun gagal menghancurkannya. Tubuh terus-menerus mengeluarkan sinyal toksik (TNF-alpha dan Interleukin), yang jika terjadi secara kronis akan menurunkan jumlah sel darah putih dan melemahkan sistem imun.
Ketiga, gangguan pembekuan darah. Interaksi NMPs dengan trombosit (platelet) memicu pembentukan gumpalan darah atau trombus, yang dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh koroner (PJK).
Keempat, penuaan dini sel. Sel-sel tubuh dipaksa menggunakan energi ekstra untuk mengeluarkan partikel plastik, yang mempercepat proses penuaan seluler dan mengganggu proses hematopoietik (pembentukan sel darah baru).
Limbah Tekstil: Polusi yang Terabaikan
Dominasi Polyester dalam temuan ini mengarahkan sorotan tajam pada industri pakaian. Serat mikro yang terlepas dari pencucian baju sintetis dan limbah pabrik tekstil kini tidak hanya mencemari sungai, tetapi telah berpindah ke dalam tubuh manusia.
"Fakta bahwa polimer tekstil menjadi penyumbang terbesar dalam darah subjek penelitian kami menunjukkan bahwa apa yang kita kenakan setiap hari berpotensi menjadi racun yang mengalir di dalam nadi," kata dia.
Ancaman Kepunahan Manusia
Ecoton telah melakukan studi awal dan mengidentifikasi mikroplastik dalam sperma dan air ketuban ibu hamil. Pada 4 sample sperma ditemukan kontaminasi 6-7 partikel mikroplastik (ukuran 1,5–7,9 mikrometer) berpolimer polyethylene.
Keberadaan nano plastik dapat memicu gangguan perkembangan sperma hingga menurunkan kesuburan.
Penelitian Ecoton bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Airlangga Surabaya menemukan pada air ketuban mikro plastik memicu gangguan perkembangan janin, penurunan nutrisi, inflamasi, hingga bayi lahir prematur, sejak ditemukannya 3-4 partikel mikroplastik dalam amnion ibu hamil jenis polyethylene, dengan mengambil 45 sample ketuban di Gresik (Jawa Timur).
Nano plastik yang masuk dalam tubuh panik langsung kirim sel-sel inflamasi seperti neutrofil, limfosit, dan leukosit untuk menghancurkannya. Masalahnya nano plastik tidak bisa hancur.
Proses “penyerangan” itu malah menghasilkan radikal bebas ( oksigen yang kehilangan elektron dan jadi ganas, merusak dinding sel, mitokondria, sampai inti sel). Keadaan ini disebut stres oksidatif: sel-sel tubuh kelelahan karena Nano plastik (benda asing) tidak bisa dihancurkan, hingga menyebabkan sel mati satu per satu yang menyebabkan rusak sel reproduksi pria, hasilnya adalah penurunan kualitas sperma hingga infertilitas.
Mereka pun merekomendasikan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, mengurangi konsumsi pakaian berbahan sintetis, menghindari penggunaan wadah plastik sekali pakai, membawa botol minum sendiri, serta menggunakan tas belanja guna ulang merupakan langkah konkret yang dapat dilakukan.
Masyarakat perlu mengkonsumsi anti inflamasi seperti kunyit dan antioksidan seperti buah dan sayuran. Selain itu olahraga yang bisa menginput energy seperti taichi.




